aji saka bertemu rasulullah
Diaakhirnya ingat pada sahabatnya yang sakti bersanama Jaka Sangkala alias Aji Saka, yang tinggal di Tanah Maldewa atau Sweta Dwipa. Akhirnya, Mahapati Ngerum diantar Aji Saka menemui Wisnu dan isterinya Dewi Sri Kembang. Saat bertemu, dituturkan bahwa wadyabala warga Ngerum yang mati tidak bisa hidup lagi, dan sudah menjadi Peri
Kitaberada pada abad ke-15 sejak Hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Akhirnya keduanya mati bagai bangkai. "Anjing rebutan tulang" itulah perumpamaannya. Begitu Aji Saka melihat kenyataan tersebut, maka tersusunlah huruf Jawa. memutuskan pembuluh darah di kepala atau leher dan mengakibatkan kematian. (sebelum bertemu fakta ini
KumpulanDongeng Anak Terpopuler, Cerita Pendek, Kisah Para Nabi dan Rasul,Kisah Abu nawas/Nasrudin Hoja, Cerita Rakyat Nusantara, Humor Segar dan Dongeng-dongeng Pengantar Tidur Akhirnya keduanya bertemu di tengah-tengah jembatan. Keduanya masih tidak mau mengalah dan malahan saling mendorong dengan tanduk mereka sehingga
PRABUJAYABAYA. (Sri Aji Joyoboyo) Adalah raja dari Kerajaan KEDIRI - Dahanapura yang memerintah sekitar tahun 1135-1157 serta bertahta di DAHANAPURA. Nama gelar lengkapnya adalah "Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa".
AbdulRf. Download PDF. Full PDF Package. Download Full PDF Package. This Paper. A short summary of this paper. 36 Full PDFs related to this paper. Read Paper. DARMAGANDHUL Carita adêge nagara Islam ing Dêmak bêdhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam.
BilaIslam seperti Nabi. Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan Ki Ajar di gunung Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi. Tergopoh-g opoh menghormati. Setelah duduk Ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengan endangnya.
Sementarariuh dentuman hujan seakan menghakimiku bersamaan dengan jutaan rasa yang datang tiba-tiba ini. Kini Radit sedang duduk bersebelahan denganku. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan dan apa yang aku katakan. Tidak seperti biasanya, biasanya aku selalu ada topik yang dibicarakan ketika bertemu dengan temanku. Tapi kenapa dengan Radit
Iapernah pula bertemu dengan Anoman, saudara tunggal Bayunya. bawah Tuban. Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah, mula bisa dadi gurune wong Islam. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. sabrang angajawa, aran Aji Saka, anggêlarake panguwasa sulap ana ing tanah Jawa. Wong
Disana berpapasan binatang gurun dengan anjing hutan, dan jin bertemu dengan temannya; hantu malam saja ada di sana dan mendapat tempat perhentian. (Yesaya 34:14) Kita kembali ke pada jaman dulu (jaman Hindu/Nabi Sis AS) tepatnya jaman Aji Saka, Aji Sakti dan Aji Putih. Ketiganya adalah kembar dan putra dari Raja Sungging Perbangkala
TentangKhastara: Khasanah Pustaka Nusantara (Khastara) adalah sebuah pintu pencarian tunggal untuk semua koleksi digital Perpusnas RI.Portal ini menampilkan informasi detail koleksi dengan lengkap yang mendukung format PDF Flip agar mudah dibaca.
. Inilah aji saka bertemu rasulullah dan ulasan lainnya yang berkaitan erat dengan topik aji saka bertemu rasulullah serta aneka informasi dunia misteri yang Anda butuhkan. Silhkan klik pada judul artikel-artikel berikut ini untuk membaca penjelasan lengkap tentang aji saka bertemu rasulullah. Semoga bermanfaat! ~ Pernah ada seseorang yang bertanya kepada A’isyah tentang shalat malam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau menjawab أَلَيْسَ تَقْرَأُ هَذِهِ السُّورَةَ؟ يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ، إِنَّ اللَّهَ عَزَّ……sesuatu yang belum pernah engkau lakukan wahai Rasulullah?’ Rasulullah SAW menjawab, Akan terjadi suatu keanehan, yaitu bahwa sekelompok orang dari umatku akan berangkat menuju baitullah Ka’bah untuk memburu seorang laki-laki……dan ciri-cirinya , kecuali Rasulullah, karena Rasululah dibimbing oleh wahyu. Oleh karena itu bagi kita sebaik-baiknya tempat untuk merujuk tentang perkara ini adalah apa yang baginda Rasulullah katakan dalam hadist-hadistnya……Joko pegadung mempunyai aji-aji Pancasona. Aji-aji itu memiliki kelebihan selama kepala dan badan Joko Pegadung itu berdekatan,walaupun sudah terpisah dari kepalanya dan mati, Joko Pegadung akan dapat hidup lagi karena……sakti mandraguna sehingga Hyang Manikmaya harus mengeluarkan pusaka-pusaka Kadewatan untuk melawannya, tapi kehebatan pusaka Hyang Manikmaya tidak membuat gentar Prabu Detya Kalamercu. Raja Jin itu sangat sukar untuk dibunuh, bahkan……fitnah Dajjal Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah bersabda,“Tiadalah Allah mengutus seorang nabi pun kecuali pasti para nabi itu telah mengingatkan umatnya akan orang yang buta sebelah lagi pendusta, ingatlah……untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, karena menurutnya, sebenarnya Muhammad Rasulullah SAW adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual. Prof. WAID……perange tanpa bala sakti mandraguna tanpa aji-aji yang memimpin adalah putera Bathara Indra bersenjatakan trisula wedha para asuhannya menjadi perwira perang jika berperang tanpa pasukan sakti mandraguna tanpa azimat Penjelasannya……jika tidak mau, tentu tidak akan bertemu dengan Sayyidina Ali. Terpaksalah Galantrang Setra kembali ketempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah… Demikianlah beberapa uraian kami tentang aji saka bertemu rasulullah. Jika Anda merasa belum jelas, bisa juga langsung mengajukan pertanyaan kepada MENARIK LAINNYAciri ciri keturunan brawijaya v, jodoh satrio piningit, Ciri keturunan Aji Saka, Pangeran sangga buana, asal usul mahesa suro, Ciri-ciri fisik keturunan Banten, ciri-ciri keturunan jaka tingkir, Ciri-ciri KETURUNAN Tubagus, ciri keturunan batoro katong, silsilah keturunan dewi lanjar
Kisah asal usul huruf jawa Hanacaraka. Hanacaraka Honocoroko merupakan salah satu huruf tradisional Indonesia yang berkembang di Pulau Jawa. Hanacaraka dikenal juga dengan sebutan aksara jawa. Dahulu, aksara jawa digunakan dalam sastra dan tulisan sehari-hari, namun lama-kelamaan aksara jawa tergeser oleh huruf latin. Meski demikian sampai saat ini aksara jawa masih dipelajari dan masuk muatan lokal di sekolah-sekolah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta dalam mata pelajaran bahasa Jawa. Konon aksara jawa disebut-sebut memiliki kisah tersendiri dalam cerita rakyat Jawa Tengah. Bagaimanakah asal mulanya? Yuk kita simak tentang asal usul aksara jawa di jawa. Kisah Asal Mula Huruf Jawa “Hanacaraka”Aksara jawa erat kaitanya dengan legenda Aji Saka. Aji Saka adalah seorang pemuda sakti dari Hindustan yang rajin dan baik hati. Ia mempunyai dua orang abdi setia bernama Dora dan Sembada. Suatu Hari Aji Saka dan pengikutnya berlayar menuju sebuah pulau bernama Jawadwipa yang terkenal kaya raya. Karena itu, Aji Saka merasa tertarik menjejakkan kaki di sana. Sesampainya mereka di pulau Jawa Jawadwipa mereka memasuki kota dan desa. Awal kedatangannya mereka ingin menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat Jawa yang berada di kerajaan Medang Kamulan. Namun sebelum mereka menuju Medang Kamulan, mereka singgah terlebih dahulu di Pegunungan Kendeng. Di Pegunungan Kendeng, diam-diam tanpa sepengetahuan Dora, Aji Saka menitipkan keris pusakanya kepada Sembada. Aji Saka berpesan kepada Sembada agar ia menjaga keris yang dititipkan beliau dan berpesan agar siapapun yang datang memintanya jangan diserahkan kecuali jika Aji Saka sendiri yang memintanya. Sembada pun berjanji untuk menjaga keris amanah dari Aji akhirnya, Aji Saka dan Dora kemudian berangkat menuju Medang Kamulan. Di negeri Medang, Aji Saka tiba di sebuah desa dan bertemu seorang janda tua bernama Nyai Sengkeran. Aji Saka bertanya kepada Nyai Sengkeran terkait daerah yang ia datangi apakah benar-benar negeri Medang. Nyai Sengkeran pun membenarkan bahwa daerah tersebut memang benar negara Medang. Lebih lanjut, Nyai Sengkaren mempertanyakan asal usul dan maksud tujuan Aji Saka ke negeri Medang. Aji Saka menyampaikan bahwa ia seorang pengembara dan bermaksud kedatangan beliau ke negeri Medang yaitu untuk melihat-lihat keluhuran negeri penjelasan Aji Saka, Nyai Sengkaren merasa senang karena selama ini hidup seorang diri. Ia menganggap Aji Saka dan Dora seperti anaknya sendiri. Sementara itu, Aji Saka dan Dora juga Nyai Sengkaren mendapat tempat tinggal di desa tersebut. Selama menginap dirumahnya Nyai Sengkaren, Aji Saka rajin membantu pekerjaan rumah. Ia juga berkenalan dengan para penduduk desa. Keberadaannya disenangi juga oleh penduduk setempat karena budi pekertinya yang santun. Selama Aji Saka tinggal di negeri Medang, ia kagum dengan kesuburan tanah di negeri Medang. Namun, Tapi sayang sekali penduduk negeri Medang hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Bahkan ada yang sampai mengungsi diam-diam. Hal tersebut karena pemimpin negeri yang bernama raja dewatacengkar mempunyai kegemaran yang aneh, yakni suka memakan daging manusia. Setiap hari raja Dewata Cengkar memakan daging manusia yang dibawa Patih Jugul Muda. Aji Saka memahami kekhawatiran dan ketakutan penduduk desa itu karena sewaktu-waktu para prajurit bisa datang ke desa ini dan membawa mereka kepada sang raja untuk dimakan. Hingga suatu hari keadaan penduduk desa mencekam. Mereka ketakutan sekali dan ingin pergi mengungsi karena mendengar kabar bahwa prajurit kerajaan akan datang ke desa untuk mencari orang yang bisa dijadikan santapan Raja. Aji Saka pun bilang kepada Nyai Sengkaren bahwa ia ingin mengabdi pada raja Dewatacengkar. Namun, Nyai Sengkaren melarang Aji Saka. Ia meminta agar Aji Saka meninggalkan Desa ini karena berbahaya. Namun, Aji Saka tetap teguh pada pendiriannya. Ia menyampaikan bahwa jika ia berhasil mengabdi pada raja Dewata Cengkar maka ia akan mampu menumpas Angkara Murka Raja Dewata Cengkar. Oleh karena itu, ia meminta kepada Nyai Sengkaren agar diantar ke rumah Patih Jugul Muda untuk diantar menghadap raja. Akhirnya, luluh juga Nyai Sengkaren. Ia menyampaikan di mana rumah Patih Jugul tahu lokasi rumah sang Patih, dengan mengenakan serban dikepala, Aji Saka segera berangkat menuju ke rumah Patih Jugul Muda. Di hadapan Patih, Aji Saka mengutarakan maksudnya bawa ingin mengabdi kepada sang prabu. Dalam hati, patih Jugu Muda berkata, “sayang sekali pemuda baik ini diserahkan oleh raja Dewatacengkar”. Meski demikian, dengan berat hati Patih Jugul Muda tetap mempersilahkan Aji Saka untuk mengabdi pada raja Dewata Cengkar. Selanjutnya, Patih Jagul Muda bilang kepada Aji Saka, “Baiklah, aku akan menuruti permintaanmu. Namun kamu harus mengetahui tugasmu nanti. Karena tidak mudah mengabdi kepada sang raja.” Aji Saka pun menghadap Prabu Dewata Cengkar yang berperawakan besar dan menyeramkan. Akan tetapi, Aji Saka berani dan menyerahkan diri untuk disantap sang prabu dengan mengajukan syarat. Namun, Aji Saka meminta satu permintaan kepada sang prabu sebelum disantap. Permintaan Aji Saka yaitu ia meminta tanah yang mana luas tanah tersebut sama dengan luas serbannya. Mengetahui permintaan Aji Saka yang hanya meminta sebidang tanah, sang prabu pun menyetujui. Dikarenakan permintaan Aji Saka disetujui raja, kemudian ia membuka serbannya. Ia meminta supaya Prabu Dewata Cengkar memegangi ujung serbannya. Sang prabu menuruti kemauan Aji Saka dengan senang hati. Namun sebuah keajaiban terjadi. Ketika mereka sedang mengukur tanah dengan serban Aji Saka, serban tersebut terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas Kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu Dewatacengkar sangat marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya untuk mengakhiri kelalimannya. Prabu dewatacengkar terus melangkah mundur mengulur serban Aji Saka. Semakin lama semakin jauh dan tiada habis-habisnya hingga sampai di tebing yang sangat curam. Melihat hal itu, Aji Saka serta-merta menyentakkan serbannya sehingga tubuh Prabu Dewata Cengkar tercebur ke laut selatan dan hilang ditelan ombak. Karena keberhasilannya menyingkirkan Prabu Dewata cengkar, Aji Saka dinobatkan menjadi Raja Negeri Medang. Rakyat Medang bahagia karena memiliki pemimpin yang adil dan bijaksana. Negeri Medang menjadi tempat yang ramai suatu hari Aji Saka teringat keris pusaka yang ia titipkan kepada Sembada. Aji Saka meminta Dora untuk pergi ke Pegunungan Kendeng untuk menemui Sembada dan meminta keris pusaka tersebut dan bilang bahwa Aji Saka sedang sibuk. Mendengar perintah sang raja, Dora pun segera menjalankan perintah sang raja. Setelah melewati perjalanan cukup panjang, akhirnya Dora berhasil bertemu dengan Sembada di Pegunungan Kendeng. Dalam pertemuan tersebut, Dora menyampaikan maksud kedatangannya menemui Sembada. Dora “Sembada, apakah benar jika kami dititipi keris oleh prabu Aji Saka? Jika iya, aku memperoleh amanat dari dari prabu Aji Saka untuk mengambil kerisnya. Di mana keris itu sekarang? Sembada “Kerisnya ada dan aku simpan. Tapi mohon maaf Dora, aku tidak bisa menyerahkan keris itu kepadamu. Aku akan menyerahkan keris itu hanya pada prabu Aji Saka.” Dora “Jadi, kau tidak mempercayaiku? Sembada “Kali ini tidak. Aku akan memegang amanah dari Paduka walau bagaimanapun keadaannya. Dora “Baiklah jika engkau berpendapat seperti itu. Maka aku terpaksa merebut keris Duga secara paksa karena itulah pesannya.” Sembada dan Dora berkelahi sengit. Keduanya saling menunjukkan kesaktiannya masing-masing. Adu kesaktian dua abdi Aji Saka ini pun mengakibatkan keduanya tewas. Mereka tewas demi mempertahankan perintah dan pesan tuannya. Sementara itu di istana Medan, Aji Saka mulai khawatir dengan keadaan abdinya. Aji Saka pun memutuskan untuk menyusul Dora dan Sembada di pegunungan Kendeng. Sesampainya di Kendeng, Aji Saka terkejut mendapati mayat Dora dan Sembada tergeletak di tanah. Aji Saka sangat menyesal karena pesannya, kedua abdi kesayangannya tewas demi tugas yang diberikannya. Kematian Dora dan Sembada menjadi bukti kesetiaan dan kepatuhan terhadap pemimpinnya. Aji Saka pun meminta maaf kepada Dora dan Sembada. Untuk mengenang pengabdian Dora dan Sembada, Aji Saka menciptakan huruf jawa yang dikenal dengan “Honocoroko” atau ditulis “Hanacaraka” dan berbunyi “Honocoroko dotosowolo podojoyonyo mogobothongo”. Konon, aksara itu memiliki arti ada dua utusan, mereka berbeda pendapat, mereka sama saktinya, dan inilah mayat mereka. Hingga kini, aksara jawa masih dipelajari oleh masyarakat Jawa dan disematkan di depan Gedung-gedung khususnya di Jawa Tengah dan kisah asal usul atau asal mula adanya huruf jawa Hanacaraka yang penuh misteri. Semoga kisah asal usul tersebut dapat menghibur pembaca dan memberikan banyak pelajaran dan nilai-nilai positif bagi kita. Beberapa nilai yang dapat kita ambil dari lahirnya huruf Hanacaraka yaitu pentingnya kita menjaga amanah yang diberikan kepada kita. Apapun harus kita lakukan untuk menjaga pesan atau amanah yang diberikan kepada kita. Bagi pembaca yang ingin kami menuliskan kisah asal usul lain, silahkan tulis di kolom komentar ya. Terima kasih….
Inilah apakah aji saka pernah bertemu nabi muhammad saw dan ulasan lainnya yang berkaitan erat dengan topik apakah aji saka pernah bertemu nabi muhammad saw serta aneka informasi dunia misteri yang Anda butuhkan. Silhkan klik pada judul artikel-artikel berikut ini untuk membaca penjelasan lengkap tentang apakah aji saka pernah bertemu nabi muhammad saw. Semoga bermanfaat! …hubungan kekerabatan dengan Pemimpin Bani Israel, Nabi Daud Alaihi Salam. Nabi Muhammad dan Humanisme Muslim Diriwayatkan Ibnu Hisyam, Rasulullah berpesan dalam Haji Wada’ “Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, nenek……Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw. Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada……Majapahit; dari asal-usul Ken Angrok Ken Arok pendiri Singasari 1144 Saka sampai Kertabhumi Brawijaya V raja terakhir berdaulat Majapahit 1400 Saka. Pararaton adalah kitab kuno. Isinya bukan hanya kisah yang……karena kepercayaan akan naga yang mempunyai cakar dan mengeluarkan api dari mulutnya. Apakah naga itu nyata atau hanya sekedar legenda? Naga merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan bangsa China….…jelaslah bahwa saat di gua Hira Nabi SAW melaksanakan shalat seperti yang diajarkan Ibrahim hingga akhirnya kewajiban shalat diturunkan kepada Nabi SAW saat Isra Mi’raj dan beliau diajari tata……Permasalahannya, Aji Pancasoka cuma bisa digunakan manusia berhati mulia, berbudi luhur, dan mampu mengalahkan nafsu angkara. “Siapakah orang yang tepat?” begitulah Bathara Guru berpikir. “Apakah Subali tepat?” Ide itu terlontar……umatnya. Bahkan realitanya dengan kondisi kita di zaman sekarang sudah kian tampak sebagai kenyataan yang selayaknya menjadi fokus dan perhatian bagi kita sebagai Umat Nabi Muhammad SAW. Berikut ini saya……diri ke Malaysia dan Indonesia. Peninggalan Rasulullah SAW di musnahkan supaya umat islam tidak lagi membesarkan Nabi Muhammad SAW dan keturunannya. Pada tahun 1793 ibnu Abdul wahab meninggal dunia namun……terawal sekalipun. Nabi terakhir saw pun telah menerangkannya dengan ratusan uraian. Nabi Isa as akan kembali dalam abad ini, Hazrat Mahdi as akan muncul dan nilai-nilai moral Islam akan mengatur… Demikianlah beberapa uraian kami tentang apakah aji saka pernah bertemu nabi muhammad saw. Jika Anda merasa belum jelas, bisa juga langsung mengajukan pertanyaan kepada MENARIK LAINNYAciri ciri keturunan brawijaya v, jodoh satrio piningit, Ciri keturunan Aji Saka, Pangeran sangga buana, asal usul mahesa suro, Ciri-ciri fisik keturunan Banten, ciri-ciri keturunan jaka tingkir, Ciri-ciri KETURUNAN Tubagus, ciri keturunan batoro katong, silsilah keturunan dewi lanjar
AJI SAKA Teater SIM C TOKOH AJI SAKA DEWATA CENGKAR DORA SEMBADA PATIH JUGUL MUDA KORBAN 1 KORBAN 2 RAKYAT 1 RAKYAT 2 RAKYAT 3 RAKYAT 4 RAKYAT 5 PERAMPOK 1 PERAMPOK 2 BAPAK TUA SETAN PENUNGGU HUTAN DAYANG ISTANA 1 DAYANG ISTANA 2 PENARI SINOPSIS Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang dipimpin oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain. Di desa Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, bertemulah Aji Saka dengan rakyat-rakyat yang telah sampai di desa Medang Kawit. Aji Saka pun mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Sebelum berangkat Aji Saka memberikan amanah kepada dua abdinya, yaitu Dora dan Sembada. Dora diminta untuk pergi terlebih dahulu ke desa Medang Kamulang untuk mengamankan warga desa Medang Kamulang yang masih belum mau mengungsi. Sedangkan Sembada diminta untuk menjaga desa Medang Kawit dan menjaga keris pusaka Aji Saka serta memberikan pesan bahwa Sembada harus tetap menjaga keris pusakanya sampai Aji Saka sendiri yang mengambilnya. Akhirnya, Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan. Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka bertemu dengan dua orang perampok yang sedang memukuli seorang bapak tua dan Aji Saka pun segera menolongnya, ternyata bapak tua itupun pengungsi dari desa Medang Kamulang. Setelah itu, Aji Saka pun sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu, tetapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari serangan si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya. Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu. Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya. Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kedzalimannya. Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka jauh dan lenyap. Mengetahui kabar tersebut, seluruh rakyat Medang Kamulan kembali dari tempat pengungsian mereka. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi Raja Medang Kamulan menggantikan Prabu Dewata Cengkar dengan gelar Prabu Anom Aji Saka. Ia memimpin Kerajaan Medang Kamulan dengan arif dan bijaksana, sehingga keadaan seluruh rakyatnya pun kembali hidup tenang, aman, makmur, dan sentausa. Setelah beberapa hari, Ajisaka menyuruh Dora pergi ke desa Medang Kawit untuk mengambil keris pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Dora di desa Medang Kawit. Ketika kedua sahabat tersebut bertemu, mereka saling rangkul untuk melepas rasa rindu. Setelah itu, Dora pun menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sembada. Sembada yang patuh pada pesan Ajisaka tidak memberikan keris pusaka itu ke Dora. Dora tetap memaksa agar pusaka itu segera diserahkan. Akhirnya keduanya bertarung tanpa ada yang mau mengalah. Mereka bersikeras mempertahankan tanggung jawab masing-masing dari Aji Saka. Mereka bertekad lebih baik mati daripada mengkhianati perintah tuannya. Akhirnya, terjadilah pertarungan sengit antara kedua orang bersahabat tersebut. Namun karena mereka memiliki ilmu yang sama kuat dan tangguhnya, sehingga mereka pun mati bersama. Sementara itu, Aji Saka Sudah mulai gelisah menunggu kedantangan Dora dari desa Medang Kawit. sudah dua hari Aji Saka menunggu, namun Dora tak kunjung tiba. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyusul ke desa Medang Kawit. Betapa terkejutnya ia saat tiba di sana. Ia mendapati kedua abdi setianya Dora dan Sembada telah tewas. Mereka tewas karena ingin membuktikan kesetiaannya kepada tuan mereka. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdianya tersebut, Aji Saka menciptakan aksara Jawa dhentawyanjana yang berbunyi ha na ca ra ka Ada utusan da ta sa wa la Sama-sama menjaga pendapat pa dha ja ya nya Sama-sama sakti ma ga ba tha nga Sama-sama mejadi mayat BABAK I ADEGAN I DISEBUAH KERAJAAN BERNAMA MEDANG KAMULAN, ADA TIGA PENARI SEDANG MENARI DIHADAPAN SEORANG RAJA YANG SANGAT BUAS DAN SUKA MEMAKAN MANUSIA. SETIAP HARI SANG RAJA MEMAKAN SEORANG MANUSIA YANG DIBAWA OLEH PATIH JUGUL MUDA. SETELAH PENARI SELESAI MENARI, MEREKA PUN KELUAR. DEWATA CENGKAR “Hahaha…. Bagaimana menurutmu patih, penari-penariku itu?” PATIH JUGUL MUDA “Sungguh menawan dan menghibur! Cantik-cantik, Prabu! Hahaha….” DEWATA CENGKAR “Dengan harta dan kekuasaanku, aku bisa mengoleksi perempuan-perempuan manapun yang ada di desa Medang Kamulan ini! Hahaha….” PATIH JUGUL MUDA “Betul Prabu! Mana ada perempuan yang tak takluk padamu. Kau seorang raja, hartamu melimpah, tentulah semua perempuan ingin dimiliki olehmu” DEWATA CENGKAR TERTAWA SINIS “Oh, ya Patih! Apakah kau sudah menyiapkan makan malam untukku?” PATIH JUGUL MUDA “Sudah Prabu Dewata Cengkar! Aku sudah mendapatkan korban untukmu” DEWATA CENGKAR “Hahaha…. Bagus, bagus! Tapi kau tidak menyiapkan korban yang seperti daging kadaluarsa kan? Seperti kemarin kau membawakan daging alot untukku, daging apakah itu Patih?” PATIH JUGUL MUDA “Maaf Prabu, Sebenarnya itu daging nenek-nenek” DEWATA CENGKAR “Hah! Nenek-nenek mana yang kau ambil?” PATIH JUGUL MUDA “Dia kuambil di rumahnya, di sebelah timur kerajaan kita” DEWATA CENGKAR “Apa! Bukankah itu nenekmu Patih!” KAGET PATIH JUGUL MUDA “Betul Prabu! Tetapi dia hanya nenek angkatku, aku sudah tak sanggup dengan tingkahnya. Dia terlalu cerewet dan sangat genit padaku karena aku tahu, sampai usia tuanya dia juga belum pernah menikah. Dia perawan tua Prabu!” DEWATA CENGKAR “Kau gila Patih! Tapi tidak apalah, ternyata lezat juga dagingnya. Hahaha…” PATIH JUGUL MUDA “Tapi sekarang Prabu, aku sudah mendapatkan korban yang lebih segar dan lezat untukmu!” DEWATA CENGKAR “Benarkah itu Patih?” PATIH JUGUL MUDA “Benar Prabu! Korbanmu nanti adalah seorang kembang desa di Medang Kamulan. Sepertinya dia rasa jeruk!” DENGAN NADA BERCANDA DEWATA CENGKAR “Walah! Darimana kau tahu kalau dia rasa jeruk?” BERCANDA PATIH JUGUL MUDA “Hahaha…. Aku telah mencicipinya Prabu!” DEWATA CENGKAR “Wah! Kau mendahuluiku Patih!” PATIH JUGUL MUDA “Maaf Prabu! Habisnya aku tak tahan melihatnya” DEWATA CENGKAR “Ahhhh… ya sudah! Cepatlah kau bawa kehadapanku!” PATIH JUGUL MUDA “Baiklah Prabu!” KELUAR MENGAMBIL SEORANG KORBAN PEREMPUAN DAN MEMBAWANYA KE HADAPAN DEWATA CENGKAR KORBAN 1 “Tolong Patih Jugul Muda, jangan bawa aku pada Prabu Dewata Cengkar” MENANGIS PATIH JUGUL MUDA “Diam kau! Kau akan menjadi santapan Prabu Dewata Cengkar malam ini. Hahaha” KORBAN 1 “Kau kejam patih! Lepaskan aku! “BERTERIAK DAN MELAWAN PATIH JUGUL MUDA “Jangan banyak bicara!” MENAMPAR KORBAN 1 PATIH JUGUL MUDA PUN SUDAH BERHADAPAN DENGAN DEWATA CENGKAR DENGAN MEMBAWA KORBAN. PATIH JUGUL MUDA “Tuan Prabu, Inilah makan malammu!” MELEMPAR KORBAN 1 HINGGA TERJATUH DEWATA CENGKAR “Hahaha… bagus Patih! Cepat kau hidangkan untukku. Aku sudah tak sabar ingin menyantapnya” PATIH JUGUL MUDA “Baik Prabu!” KELUAR DAN MEMBAWA KORBAN UNTUK MENGHIDANGKANNYA ADEGAN II RAKYAT MEDANG KAMULAN DIRUNDUNG RASA TAKUT, DENGAN KEGEMARAN SANG PRABU DEWATA CENGKAR MEMAKAN DAGING MANUSIA. SEHINGGA RAKYAT MEDANG KAMULAN BERBONDONG-BONDONG MENGUNGSI KE DAERAH LAIN. RAKYAT 1 “Akhirnya kita sampai juga disini!” NAFASNYA TERENGAH-ENGAH RAKYAT 2 “Menurutku, untuk sementara tempat ini aman dari kejaran Patih Jugul Muda” MENGELUARKAN PENDAPATNYA RAKYAT 3 “Tapi bagaimana kalau Patih Jugul Muda itu tahu keberadaan kita? Binasalah kita jika tertangkap oleh Patih Jugul Muda itu” KHAWATIR RAKYAT 2 “Tenang! Desa ini sepertinya aman” MEYAKINKAN RAKYAT 3 “Darimana kau yakin bahwa tempat ini aman?” TIDAK PERCAYA RAKYAT 2 “Karena jarak dari medang Kamulan sampai ke desa ini sangat jauh, jadi mustahil Patih Jugul Muda mencari kita sampai ke tempat ini” MENJELASKAN RAKYAT 3 “Kalau sampai kita tertangkap dengan Patih Jugul Muda itu, mau tidak mau ada salah satu di antara kita yang menjadi korbannya. Siapa yang mau jadi korban?” RAKYAT 1 “Ya pasti si Gembullah, saat patih jugul muda menemukan kita, tatapannya tentulah akan mengarah padamu” MENOLEH KEARAH RAKYAT 2 RAKYAT 3 “Betul itu, badanmu kan bohai mbul!” RAKYAT 2 “O… tidak bisa! Wani piro? Biar bohai-bohai gini dagingku yang paling alot. Mungkin butuh tujuh hari tujuh malam untuk merebusnya. Iya kan?” RAKYAT 1 “Tidak usah direbus tujuh hari tujuh malam juga bisa mbul, rendam saja pake borak!” TERTAWA MELEDEK RAKYAT 2 “Waduh niat juga ya kalian mau memberikan aku pada Patih Jugul Muda itu! Sungguh teganya…” RAKYAT 3 Jangan ngambek begitu dong mbul, ini kan masih seandainya! Toh kalaupun kamu duluan yang tertangkap, sebagai teman aku hanya bisa bantu doa. Bukan begitu? Hehehe TERTAWA MELEDEK RAKYAT 2 Yah itu mah sama saja! Sekalian saja kalian kuliti aku, lalu kalian sate dan kalian makan berdua! Huh! MURUNG RAKYAT 1 Hustt… Sudah-sudah, saat ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda! sekarang kita pikirkan saja nasib kita ke depan. Mau tinggal di mana kita? Sedangkan desa ini asing bagi kita dan kita sendiri tak mengenal orang-orang di daerah ini. RAKYAT 3 Emm…Benar ucapanmu! RAKYAT 2 Sebentar, sebentar... MENGINAT-INGAT sepertinya dulu aku pernah mendengar bahwa di desa Medang Kawit ada seorang kesatria yang sakti dan baik hati. Bagaimana kalau kita meminta bantuannya? RAKYAT 3 Bisa saja! Kau tau keberadaan kesatria itu? Oh, iya. Kira-kira dia tampan tidak ya? TERSENYUM-SENYUM MEMBAYANGKAN RAKYAT 1 Ah kamu ini kalau masalah kasatria tampan, baru semangat. JUTEK RAKYAT 2 Iya, kamu tuh ya, genit-genit-geniiit banget! Giliran korban saja aku yang diajukan. RAKYAT 3 Iya… iya aku salah! Tapi siapa tau kan kesatria itu tampan, lalu ketika bertemu dengan ku dia jatuh cinta. Jadi, aku tidak jomblo lagi kan. Hehehe. TERTAWA RIANG RAKYAT 2 Huh… ngayal jangan tinggi-tinggi, nanti jatuh sakit loh! RAKYAT 3 Bilang saja kalian tidak suka kan melihat teman kalian bahagia. Payah! MEMBUANG MUKA RAKYAT 2 Ya sudah sekarang kita cari saja kesatria itu! Nanti keburu malam, kan repot! RAKYAT 3 Tunggu, apa tidak sebaiknya kita beristirahat dulu. RAKYAT 1 Ya ampun, masa baru begitu saja kamu sudah cape. Malu dong sama gembul! MEREKA MENGHENTIKAN LANGKAHNYA SAMBIL MENOLEH KE KANAN-KIRI Lihat! Di sana ada pendopo. Kalau begitu kita beristirahat dulu saja di sana! RAKYAT 2 Okelah kalau begitu! MEREKA PUN BERGEGAS MENUJU PENDOPO KEMUDIAN DATANGLAH SEORANG KESATRIA BERNAMA AJI SAKA. DIA SEORANG PEMUDA YANG TAMPAN, BAIK DAN MEMILIKI ILMU YANG SANGAT SAKTI. AJI SAKA MEMILIKI DUA ORANG ABDI BERNAMA DORA DAN SEMBADA. DORA MENGHENTIKAN LANGKAHNYA Tuan, Lihat pendopo tempat kita latihan. Mengapa banyak orang? SEMBADA Benar tuan, apakah tuan mengenal mereka? AJI SAKA MELIHAT KEARAH SAUNG Entahlah, aku tak mengenal mereka. DORA Apa mungkin mereka dari desa seberang? SEMBADA Bukan, sepertinya mereka itu pengembara yang sedang beristirahat di pendopo kita karena keletihan, lihat saja wajah mereka yang tampak lelah. DORA Tidak! Aku yakin mereka pasti dari desa seberang. SEMBADA Ahh, kau itu sok tahu! Kalau memang mereka dari desa seberang, buat apa mereka kemari? DORA Mana aku tahu! AJI SAKA Daripada kalian menduga-duga, lebih baik kita hampiri saja mereka! AJI SAKA, DORA DAN SEMBADA MENGHAMPIRI RAKYAT-RAKYAT AJI SAKA Maaf , kalau boleh tahu kalian ini darimana? Ada maksud apa hendak ke sini? RAKYAT 2 Kami ini dari kerajaan Medang Kamulan, ingin mencari tempat baru di desa ini. AJI SAKA Memangnya ada apa dengan kerajaan Medang Kamulan? RAKYAT 3 Di sana pemimpin kami Prabu Dewata Cengkar gemar memakan manusia dan kami akan dijadikan korban berikutnya. Maka dari itu kami pindah ke desa ini untuk menghindar dari Patih Jugul Muda yang mencarikan korban untuk santapan Prabu Dewata Cengkar. AJI SAKA Jadi isu itu benar! Kejam sekali Prabu Dewata Cengkar itu, perilakunya sudah tak layak dibiarkan. RAKYAT 1 Iya begitulah raja kami di desa Medang Kamulan. Oh ya, Anak muda! boleh kami bertanya? AJI SAKA Boleh, silakan! RAKYAT 1 Begini, kami dengar di desa Medang Kawit ada seorang kesatria yang sakti dan baik hati bernama Aji Saka, Apakah anak muda mengenalnya? RAKYAT 3 Oh iya. Boleh juga kan aku bertanya. Apakah kesatria yang bernama Aji Saka itu tampan? MENUTUP MUKANYA KARENA MALU AJI SAKA DIAM DAN BERJALAN KE SAMPING KIRI DORA Memangnya ada perlu apa kalian mencari Aji Saka? RAKYAT 2 Kami ingin meminta batuannya untuk melawan Prabu Dewata Cengkar. RAKYAT 3 Iya benar, kami ingin meminta bantuannya, sekaligus memintanya menjadi suamiku. TERSENYUM-SENYUM GENIT RAKYAT 2 Husst. Ngaco saja kamu! Maaf janganlah ditanggapi ucapan teman kami ini. SEMBADA Inilah adalah Aji Saka. Sudah berada di hadapan kalian. MENUNJUK KE ARAH AJI SAKA SEMUA RAKYAT MEMBERI HORMAT Jadi tuan ini Aji Saka. Maaf kami telah lancang. AJI SAKA Sudahlah kalian jangan seperti itu. Kita ini sama-sama manusia biasa. Aku memang Aji Saka. Sekarang kalian beristirahatlah dulu di sini. Aku berjanji akan membantu kalian. Aku akan datang ke desa Medang Kamulang dan membunuh Prabu Dewata Cengkar untuk mengakhiri kedzalimannya. RAKYAT 1 Terima kasih tuan Aji Saka. Kami percaya bahwa tuan pasti bisa menepati janji. RAKYAT 2 Benar, kami pun percaya bahwa tuan bisa membunuh Prabu Dewata Cengkar agar kami bisa hidup kembali di Desa Medang Kamulan dengan aman dan sentausa. AJI SAKA Baiklah. Aku akan mengusahakannya. Kalian doakan saja. Dora, Sembada ayo ikut aku! DORA DAN SEMBADA Baik tuan! DORA DAN SEMBADA PUN PERGI MENGIKUTI AJI SAKA AJI SAKA MERANGKUL DORA DAN SEMBADA Dora, Sembada, aku mempunyai amanah untuk kalian. DORA Amanah apa yang hendak tuan berikan kepada kami? AJI SAKA Dora, tolong kau datang ke desa Medang Kamulan sekarang. Pantau keadaan di sana dan bantu masyarakat untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Setelah itu, temui aku di sana! DORA Baik tuan, akan aku laksanakan! BERGEGAS PERGI AJI SAKA Untukmu Sembada, tolong kau jaga desa Medang Kawit beserta masyarakatnya dan para pengungsi yang datang. Aku titipkan juga keris pusaka milikiku padamu, jangan sampai ada yang mengambilnya kecuali aku sendiri yang datang untuk mengambilnya. MENGELUARKAN KERIS DAN MEMBERIKANYA KEPADA SEMBADA SEMBADA Baik tuan, aku akan menjaga amanah darimu walaupun nyawa taruhannya. MENERIMA KERIS PUSAKA DARI AJI SAKA AJI SAKA Aku percaya padamu Sembada! PERGI ADEGAN III ADA SEORANG PEREMPUAN YANG SEDANG MENCARI KAYU DIPINGGIR HUTAN. PATIH JUGUL MUDA YANG SEDANG MENCARI KORBAN UNTUK SANTAPAN PRABU DEWATA CENGKAR AKHIRNYA MENCOBA MENANGKAP PEREMPUAN ITU. KORBAN 2 Huh, lelah sekali! Kalau bukan karena kebutuhanku untuk memasak. Aku tak akan keluar rumah dan mencari kayu dipinggir hutan seperti ini. Apalagi semenjak Prabu Dewata Cengkar menjadi buas dan suka memakan manusia. Seluruh masyarakat dirundung ketakutan, banyak yang mengungsi dan tak mau keluar rumah. Mudah-mudahan saja aku tak tertangkap Patih Jugul Muda, lalu dijadikannya santapan untuk Dewata cengkar. Sepertinya aku harus buru-buru. PATIH JUGUL MUDA MASUK, MELIHAT-LIHAT SEKITAR Desa Medang Kamulang semakin hari semakin sepi saja. Sepertinya masyarakat desa ini sudah banyak yang mengungsi karena ketakutan mereka akan disantap oleh Prabu Dewata Cengkar. MENENGOK KE PINGGIR HUTAN DAN MELIHAT SEORANG PEREMPUAN YANG MENENTENG KAYU Inilah hari keberuntunganku. Akhirnya kutemukan juga korban untuk santapan Prabu Dewata Cengkar. Hahaha…. MENDEKATI PEREMPUAN ITU DAN MENANGKAPNYA KORBAN 2 Ahhhhh…. Apa-apaan ini? Lepaskan aku! BERONTAK DAN MENATAP PATIH JUGUL MUDA Patih Jugul Muda! PATIH JUGUL MUDA Diam kau! Ikut aku! MEMEGANG TANGAN PEREMPUAN ITU SEMAKIN KENCANG DAN MENARIKNYA KORBAN 2 Aku tak mau! Aku tak mau Patih! Lepaskan aku! TERUS BERUSAHA MELEPASKAN DIRI PATIH JUGUL MUDA Aku tak akan melepaskanmu. Akan kubawa kau kepada Prabu Dewata Cengkar untuk disantap olehnya. Hahaha…. KORBAN 2 Tidak! MENCOBA MEMUKUL PATIH, TETAPI PATIH JUGUL MUDA MENANGKAP TANGANNYA DAN MEMUKULNYA BALIK HINGGA TERJATUH Brengsek kau Patih! PATIH JUGUL MUDA Berani kau melawanku! Aku tak akan segan-segan memukulmu lagi. Ayo ikut aku sekarang! KEMBALI MENARIK TANGAN PEREMPUAN ITU KORBAN 2 Tidak Patih! Jangan! Tolong-tolong-tolong…. MENANGIS DAN MERINTIH KESAKITAN PATIH JUGUL MUDA Aku tak akan melepaskanmu bodoh! TERTAWA LEPAS DAN SEMAKIN KEJAM MENARIK KORBAN UNTUK MEMBAWANYA KE KERAJAAN ADEGAN IV DENGAN MENGENAKAN SERBAN DI KEPALA, AJI SAKA BERANGKAT KE MEDANG KAMULAN. AJI SAKA MASUK KE DALAM HUTAN UNTUK MENUJU DESA MEDANG KAMULANG. DI HUTAN AJI SAKA BERTEMU DENGAN DUA PERAMPOK YANG SEDANG MERAMPOK SEORANG BAPAK TUA. PERAMPOK 1 Gap! Hidup kita makin susah saja ya! Punya raja koplak seperti itu. Sukanya main perempuan. Mentang-mentang punya kekuasaan, semua ingin dimilikinya. Mana ada dalam pikirannya kesejahteraan rakyat. Yang ada cuma bikin rakyat sengsara saja! PERAMPOK 2 GAGAP Betul! Rakyatlah yang jadi korban kalau punya raja seperti itu. PERAMPOK 1 Kemarin saja aku melihatnya membawa perempuan muda yang sangat cantik, aku yakin, itu pasti akan jadi simpanan barunya. PERAMPOK 2 Ya begitulah si koplak itu! Si Paijo kemarin pun cerita padaku, kalau sapi-sapinya dirampas dan dibawanya kekerajaan. PERAMPOK 1 Wah, kurang ajar benarnya itu raja! Sudah selirnya di mana-mana, masih saja mengkorupsiin sapi-sapi rakyat. Edan-edan! MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA PERAMPOK 2 Kan kamu juga yang bodoh! Sudah tahu dia koplak begitu. Kenapa waktu itu kau dukung dia jadi raja. Coba piker nasib rakyat seperti kita, habis sudah! Rakyat-rakyat yang lancar berbicara saja bisa jadi gagap karena nahan lapar, apalagi yang sudah gagap seperti aku, modar kabeh! PERAMPOK 1 Halah! MENEPOK JIDADNYA SENDIRI Nyesel aku! Tapi, memangnya dulu kau tidak mendukungnya waktu dia mau naik jadi raja? PERAMPOK 2 Tidaklah! Aku tidur di rumah. Mending golput daripada dosa memilih pemimpin yang dzalim kaya begitu. Oh ya, kau lapar tidak sih? PERAMPOK 1 Ya lapar Gap! Kan kita belum makan dari kemarin. Kalau-kalau ada orang lewat nanti, bagaiamana kalau kita rampok hartanya? PERAMPOK 2 Ah! Begini nih kalau orang lapar, pasti jadi brutal dan akhirnya berbuat kriminal. PERAMPOK 1 Halah, sok baik kau! Nasib orang susah memang begitu Gap! Memangnya kau mau mati kelaparan di sini? PERAMPOK 2 Benar juga sih! Baiklah kalau begitu. PERAMPOK 1 MELIHAT-LIHAT Hahaha. Walah-walah, ini dia yang dikata pepatah “pucuk dicinta ulam pun tiba.” Lihatlah, ada korban tuh! PERAMPOK 2 Hahaha, betul-betul-betul! Sikat! MEREKA PUN MENGHAMPIRI BAPAK TUA PERAMPOK 1 Hey! MEMBENTAK BAPAK TUA Apa-apaan ini, mau apa kalian? PERAMPOK 2 Serahkan barang-barang yang kau bawa. Cepat! BAPAK TUA Ampun… ampun! saya tidak punya apa-apa! PERAMPOK 1 Heh, jangan banyak bicara kau orang tua! BAPAK TUA Tidak! Saya tidak bawa barang berharga, saya hanya orang miskin yang ingin merantau ke desa seberang. MENGGENGGAM BARANG BAWAANNYA PERAMPOK 1 Halah! MERAMPAS BARANG BAWAAN BAPAK TUA DAN MELEMPARNYA KE PERAMPOK 2 Coba kau lihat apa isi tasnya? PERAMPOK 2 MENGOBRAK-ABRIK ISI TAS Hahaha… lihat apa yang kudapatkan? MEMEGANG UANG BAPAK TUA DARI TASNYA PERAMPOK 1 Hahaha…. Bagus-bagus! BAPAK TUA Jangan! Jangan kau ambil uangku! Itu untuk biaya hidupku selama merantau ke desa sebrang! PERAMPOK 1 Banyak juga bicaramu orang tua! MEMUKULI BAPAK TUA ITU BERSAMA PERAMPOK 2 BAPAK TUA Tolong... tolong...tolong...! AJISAKA YANG SEDANG BERJALAN, LALU MENDENGAR TERIAKAN BAPAK TUA ITU. IA PUN SEGERA MENDEKATINYA. AJI SAKA Hey, berhenti! Apa yang kalian lakukan kepada bapak tua itu? PERAMPOK 1 Siapa kau beraninya membentak kami? PERAMPOK 2 Kau mau mati? AJI SAKA Aku Aji Saka! Lepaskan bapak tua itu! PERAMPOK 1 Alaaaah, sudah jangan banyak basa-basi. Kita habisi saja dia! MENGELUARKAN PISAU PERAMPOK 2 Baik, ayo kita pertemukan dia pada maut! MENGAMBIL SEBUAH BALOK DI BAWAH TERJADILAH PERTARUNGAN ANTARA AJI SAKA DENGAN PERAMPOK 1 DAN PERAMPOK 2. AKHIRNYA AJI SAKA MENGELUARKAN AJIANNYA UNTUK MELAWAN KEDUA PERAMPOK TERSEBUT SAMPAI MEREKA JATUH TERSUNGKUR. PERAMPOK 1 Kurang ajar! Ternyata dia ini orang sakti. Ayo kita kabur sebelum kita yang dihabisi olehnya. PERAMPOK 2 Benar! Ayo! MEREKA PUN KABUR KELUAR BAPAK TUA Terimakasih, anak muda! AJI SAKA Sama-sama, Pak! Bagaimana kondisi Bapak? BAPAK TUA Aku baik-baik saja Nak! AJI SAKA Baguslah kalau begitu! Aku tahu pasti bapak adalah warga medang kamulan yang ingin mengungsi kan? BAPAK TUA Ya, benar. Dari mana kau tau Nak? AJI SAKA Aku sudah mendengar kabar bahwa di kerajaan Medang Kamulan, Prabu Dewata Cengkar sangat buas dan gemar memakan manusia. Oleh karena itu, banyak sekali warga dari Medang Kamulan yang mengungsi. Sekarang bapak, teruslah berjalan menyusuri hutan ini, di perbatasan hutan nanti, bapak akan bertemu dengan abdiku yang bernama Sembada. Dia akan membantu bapak untuk mengungsi. BAPAK TUA Baiklah Nak! Sekali lagi terima kasih, kau telah menolongku tadi. AJI SAKA Iya Pak! Oh ya, aku pamit ingin melanjutkan perjalanan menuju Medang Kamulan. Aku ingin segera mengakhiri kedzaliman Prabu Dewata Cengkar, agar masyarakat Medang Kamulan bisa kembali lagi ke desanya dan hidup dengan aman dan sentausa. BAPAK TUA Apa kau yakin bisa melakukannya? AJI SAKA Ya! Insya Allah aku bisa melakukannya. BAPAK TUA Baiklah kalau begitu, berhati-hatilah kau, Nak! Aku akan terus berdoa untuk keberhasilanmu. AJI SAKA Baik, Pak! Terimakasih. Saya pamit ingin melanjutkan perjalanan sekarang! BAPAK TUA Iya, Nak! MEREKA PUN SAMA-SAMA BERJALAN KELUAR DENGAN DUA ARAH YANG BERBEDA ADEGAN V DI DESA MEDANG KAWIT, SEMBADA SEDANG MENJAGA DI PERBATASAN DESA SEMBARI MENUNGGU PENGUNGSI-PENGUNGSI LAIN DARI DESA MEDANG KAMULANG. SEMBADA BERNYANYI DENGAN NADA-NADA KEKHAWATIRAN Kira-kira, tuan Aji Saka sudah sampai atau belum ya di desa Medang Kamulang? Semoga saja tuan Aji Saka mampu melawan Prabu Dewata Cengkar dan kembali lagi ke sini dengan keadaaan baik dan membawa kabar baik pula. Sebelum tuan Aji Saka kembali ke sini, aku akan menjaga desa Medang Kawit dan keris pusaka ini dengan baik, sekalipun nyawa taruhannya. BERJALAN DAN MASIH TERUS BERPIKIR TENTANG KEADAAN AJI SAKA Tapi bagaimana kalau tuan Aji Saka gagal. GELISAH Tidak-tidak mungkin. Aku tidak boleh berpikir seperti itu. Hati dan pikiranku semakin tidak karuan saja saat ini. Sepertinya sangat berat sekali menerima kenyataan tuan Aji Saka pergi jauh dariku. Entah, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Apa mungkin aku mencintainya? Aku tak bisa berbohong pada diriku sendiri, aku sangat mengkhawatirkannya dan aku sangat merindukan sosoknya dekat di hadapanku. Sudahlah, kurasa saat ini bukan waktunya aku memikirkan hal seperti ini. MELIHAT SEORANG BAPAK TUA YANG SEDANG MENUJU DESA MEDANG KAWIT Sepertinya orang itu pengungsi dari Medang Kamulang. BAPAK TUA Permisi Nak! Aku ingin mengungsi di desa ini. Apa boleh? SEMBADA Oh, baik Pak! Mari aku antarkan menuju desa Medang Kawit. Di sana juga sudah banyak pengungsi-pengungsi lain dari desa Medang Kamulang. BAPAK TUA Terima kasih Nak! Mari! MEREKA BERJALAN BERIRINGAN MENUJU DESA MEDANG KAWIT ADEGAN VI DI DESA MEDANG KAMULAN, DORA BERUSAHA MENGAJAK MASYARAKAT UNTUK MENGUNGSI KE TEMPAT LAIN YANG LEBIH AMAN. DORA Bapak-bapak, ibu-ibu, aku Dora dari Desa Medang Kawit. Aku sudah mengetahui kondisi di desa ini. Jadi, aku ingin mengajak kalian untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. RAKYAT 4 Aku tak ingin pergi dari desa ini. Aku akan tetap berada di sini! Aku juga tidak mempercayaimu. Bisa saja kan, kau ini adalah pesuruh Prabu Dewata Cengkar, nanti kalau kami ikut denganmu, kau bukannya mengajak kami mengungsi ke tempat yang lebih aman, justru malah membawa kami ke kerajaan untuk menjadi santapan Prabu Dewata Cengkar. CURIGA DAN BERMUKA MASAM DORA Percayalah, aku bukanlah pesuruh dari kerajaan Medang Kamulan. Aku benar-benar datang dari Medang Kawit dan bermaksud membantu kalian di sini. RAKYAT 4 Tetap saja aku tak mempercayaimu. MEMBUANG MUKA DORA Tidakkah kalian takut jika tetap berada di sini? Sedangkan Patih Jugul Muda sedang gencar-gencarnya mencari korban dan sebagian warga medang kamulan sudah mengungsi. RAKYAT 4 Kau pasti menakut-nakutiku kan? Aku akan tetap bertahan di sini, sampai aku mati pun, aku akan tetap berada di sini. DORA Aku mengerti, kalian adalah masyarakat desa Medang Kamulang yang setia dan tak mau pergi dari desa ini, tetapi demi kebaikan kalian! Kalian hanya mengungsi sampai kondisi di sini aman! Tuan Aji Saka akan berusaha mengakhiri kedzaliman Prabu Dewata Cengkar. Dia adalah seorang kesatria yang sakti dari desa Medang Kawit. RAKYAT 5 Aji Saka! MENGGERUTU DENGAN RAKYAT YANG LAIN RAKYAT 4 Oh, iya! Aku pernah mendengar nama itu. Dia memang disebut-sebut sebagai kesatria yang sakti dari desa seberang. Tapi, apakah benar yang kau katakan itu? DORA Ya, aku bicara benar! Aku yakin tuan Aji Saka bisa mengatasi permasalahan ini! Marilah ikut aku untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman, sampai keadaan desa Medang Kamulang ini sudah benar-benar aman. RAKYAT 5 Kurasa tidak ada salahnya kita ikuti orang ini. Lagipula dari kemarin, kita pun dirundung ketakutan yang luar biasa akan Prabu Dewata Cengkar di sini. RAKYAT 4 GELISAH DAN BIMBANG Aku bingung harus berbuat apa lagi. Jujur, aku pun takut jika terus berada di sini. Baiklah, seperti kau mempunyai niat yang tulus. Aku akan mengikutimu untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman, dan berharap tuan Aji Saka mampu membinasakan Prabu Dewata Cengkar. DORA Baik, mari kita semua keluar dari desa ini! Sebelum Patih Jugul Muda menemukan kita. SEMUA RAKYAT Baiklah, ayo segera kita bergegas pergi. DORA PUN BERJALAN KELUAR BERSAMA-SAMA MASYARAKAT UNTUK MENGUNGSI ADEGAN VII KETIKA AJI SAKA MELANJUTKAN PERJALANANNYA, TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA GAIB DARI SISI-SISI HUTAN. SETAN HUTAN Hahaha… kau sudah melewati wilayahku! AJI SAKA TERKEJUT Siapa kau? Tampakkan wujudmu! SETAN HUTAN Rupanya besar juga nyalimu MANPAKKAN WUJUDNYA AJI SAKA Mengapa kau halangi jalanku? SETAN HUTAN Hahaha… jika kau ingin melewati hutan ini dengan selamat, kau harus menjadi budakku selama sepuluh tahun terlebih dahulu! Hahaha…. AJI SAKA Aku tak sudi menjadi budak setan sepertimu! Menyingkir kau! SETAN HUTAN Hahaha…. Benar kau tak mau menuruti mauku? AJI SAKA Walaupun aku harus mati di sini, aku tak akan menuruti maumu! GERAM SETAN HUTAN Baiklah, sepertinya kau ini bukan orang sembarangan. Bagaimana kalau kita membuat suatu kesepakatan? AJI SAKA Sudahlah, aku tak akan menyepakati satu pun permintaanmu? SETAN HUTAN Hahaha, benarkah itu? Apa kau tak mau menjadi pendampingku, dan menjadi penguasa di hutan ini? AJI SAKA Sudahlah, aku tak banyak waktu untuk meladeni setan sepertimu. Menyikirlah kau! GERAM SETAN HUTAN Kalau begitu, bersiaplah menuju ajalmu! MENYERANG AJI SAKA DENGAN KEKUATANNYA AJI SAKA MENGHINDAR DARI SERANGAN SETAN HUTAN Bismillahirrahmanirrahim…. BERSILA MEMANJATKAN DOA, TIBA-TIBA MUNCULAH CAHAYA DARI LANGIT MENGHANTAM SETAN HUTAN SETAN HUTAN Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. MERINTIH KESAKITAN LALU LENYAP AJI SAKA Alhamdulillahirobbil alamin…. MENGUSAP MUKA LALU MELANJUTKAN PERJALANAN ADEGAN VIII DI KERAJAAN MEDANG KAMULAN PRABU DEWATA CENGKAR SEDANG MARAH KARENA PATIH JUGUL MUDA LAMA MENYIAPKAN HIDANGANNYA. SEDANGKAN PATIH JUGUL MUDA SIBUK MENCARI KORBAN SELANJUTNYA. DEWATA CENGKAR Patih! Lama sekali kau membawa makanan untukku. Ke mana saja kau? PATIH JUGUL MUDA Maaf Prabu! Saat ini sulit sekali mencari korban untukmu karena masyarakat Medang Kamulan sudah banyak yang pergi dari desa ini. DEWATA CENGKAR Apa? Mengapa masyakarat pergi dari desa kekuasaanku? PATIH JUGUL MUDA Sepertinya, masyarakat mulai ketakutan akan menjadi santapanmu. Oleh karena itu, mereka pun mengunsi untuk menghindar dari tangkapanku. DEWATA CENGKAR MARAH Kurang ajar! Kalau begitu, apabila kau ingin mencarikan korban untukku, kau harus lebih jauh mencari. Aku tak mau tahu, setiap hari kau harus menyiapkan makanan untukku. PATIH JUGUL MUDA BINGUNG Baiklah Prabu! Aku mencurugai, sepertinya masyarakat mengungsi di desa seberang, setelah perbatasan hutan. DEWATA CENGKAR Aku tak peduli, di mana pun jauhnya masyarakat pergi. Yang pasti kau harus menyiapkan makanan untukku, mengerti kau Patih? PATIH JUGUL MUDA Baik Prabu, aku mengerti! DEWATA CENGKAR MENGUSAP-USAP PERUTNYA Sekarang perutku sudah mulai keroncongan. Sudahkah kau mendapatakan korban untukku? PATIH JUGUL MUDA Sudah Prabu! Aku sudah mendapatkan korban untukmu. Walaupun aku belum mencicipinya, tapi sepertinya korbanmu saat ini rasa duren. Dia mentong dan kau pasti akan puas memakannya. DEWATA CENGKAR Hahaha… benarkah itu patih! Cepatlah kau bawakan kehadapanku. Aku ingin melihat wajah dan tubuhnya. Jangan sampai kau bohongi aku karena aku sudah mulai curiga denganmu. Jangan-jangan apa yang kau bilang tadi bukan seperti nyatanya. CURIGA PATIH JUGUL MUDA Tidak Prabu! Aku berkata benar. Tunggulah, akan segera kubawakan ke hadapanmu. KELUAR DAN MEMBAWA KORBAN 2 Hahaha…. Prabu, lihat inilah santapanmu malam ini! MENYERET PEREMPUAN ITU KE DAPUR KORBAN 2 BERTERIAK, MENAGIS, MERONTA-RONTA UNTUK DILEPASKAN Tolong... tolong Patih! Lepaskan aku. Aku masih ingin hidup. Tolong, jangan... jangan! MENCOBA MELEPASKAN LENGANNYA DARI GENGGAMAN PATIH JUGUL MUDA DEWATA CENGKAR Hahaha… bagus Patih! KORBAN 2 MENANGIS DAN MEMOHON Prabu Dewata Cengkar, tolong lepaskanlah aku. Aku tak mau mati dan menjadi santapanmu. Aku mempunyai anak-anak yang masih kecil dan mereka masih membutuhkanku. Tolonglah Prabu, biarkan aku pergi. DEWATA CENGKAR Hahaha…. Aku tak akan perduli dengan anak-anakmu itu, kalau perlu anak-anak pun akan santap juga. Jadi, kalian akan kupertemukan lagi di dalam perutku. Mengerti kau Bodoh! Hahahaha…. Patih! Cepatlah kau hidangkan perempuan ini. Aku sudah lapar! KORBAN 2 MERINTIH DAN TERUS MENANGIS Jangan, jangan bawa aku. Tolong-tolong…. AJI SAKA DENGAN SUARA LANTANG Hentikan! DEWATA CENGKAR TERKEJUT Siapa kau? Berani-beraninya kau datang ke kerajaanku. AJI SAKA DENGAN GAGAH Perkenalkan. Aku Aji Saka. Aku datang dari desa Medang Kawit. PRABU DEWATA Lalu mau apa kau datang kemari? AJI SAKA Kau lepaskan perempuan itu, biarkan aku yang menjadi penggantinya untuk santapanmu hari ini. PRABU DEWATA Sungguh berani kau anak muda. Baiklah kalau begitu, sepertinya dagingmu lebih lezat dari pada perempuan itu. Hahaha…. AJI SAKA Tapi tunggu dulu Prabu! Sebelum aku menjadi santapanmu. Aku memiliki satu syarat yang harus kau penuhi. PRABU DEWATA CENGKAR Syarat apa itu anak muda? AJI SAKA Aku hanya meminta sebidang tanah seluas sorban ini. DEWATA CENGKAR Hahaha…. Hanya itu yang kau minta? Kau bercanda anak muda. Jika hanya tanah seluas sorban itu, sepuluh kali lipatpun akan kuberikan! Coba kau pikirkan dulu, apa kau tidak mau seperti fathonah, raja di seberang kerjaanku ini, dia memiliki tanah di mana-mana? Gadis-gadis cantik pun akan kuberikan untukmu, sebutkan saja gadis seperti apa yang kau minta? Apakah Maharani atau Ayu Ashari dayang-dayangku di sini. MENATAP AJI SAKA MENCOBA MEMPENGARUHI Ingat, kau itu tampan! Gunakan sisa waktumu dengan menikmati dunia ini, sebelum kau menjadi santapanku anak muda. Hahaha. AJI SAKA Tidak! Mungkin menurut pandangan seorang penguasa sepertimu, kebahagiaan hanya diukur dengan kesenangan dan kemewahan. Tapi aku bukanlah raja sepertimu atau raja-raja lain yang gila harta, tahta dan wanita. Cukup dengan melihat masyarakat hidup aman dan sentausa, itu merupakan kebahagiaan yang luar biasa untukku! Sekarang, cukup kau berikan sebidang tanah seluas sorban ini saja. MENYERAHKAN SORBANNYA DEWATA CENGKAR Sungguh sayang, wajahmu saja yang tampan tapi kau terlalu bodoh anak muda. Masih sempat kau memikirkan orang lain, padahal sebentar lagi kau akan mati. Tidakkah kau mau menikmati sisa waktumu? AJI SAKA Tidak! Sudahlah tak perlu prabu berpanjang lebar. Cukuplah tanah seluas sorban ini sebagai permintaan terakhirku! DEWATA CENGKAR Hahaha, kau benar-benar bodoh! Baiklah kuterima permintaanmu! MENERIMA SORBAN ITU, SAAT DIPEGANG SORBAN ITU SEMAKIN PANJANG HINGGA MENUTUPI SELURUH KERAJAAN Apa-apaan ini? Kau mempermainkanku anak muda! Patih! Cepatlah kau tangkap pemuda itu dan segera hidangkan untukku. Aku semakin tidak sabar ingin menyantapnya. GERAM DAN MARAH PATIH JUGUL MUDA Baik prabu! SEGERA MENDEKATI AJI SAKA DAN MENARIK TANGANNYA AJI SAKA MELEPASKAN PEGANGAN PATIH JUGUL MUDA Kau telah ingkar janji Prabu! Sekarang seluruh tanah di kerajaanmu telah menjadi milikku. DEWATA CENGKAR Ingkar janji? Hahaha. Untuk raja sepertiku tidaklah menjadi masalah bodoh! Cepat patih kau bawa dia dan hidangkan untukku! AJI SAKA Kau tak layak menjadi raja! Kau telah dzalim prabu! PATIH JUGUL MUDA MENARIK AJI SAKA DAN AJI SAKA MELAWAN. SETELAH ITU TERJADILAH PERTARUNGAN ANTARA KEDUANYA, HINGGA PATIH JUGUL MUDA PUN MATI DEWATA CENGKAR Ternyata kau orang sakti! Baiklah aku sendiri yang akan menghabisimu. Dan kau akan menjadi santapanku saat ini! Hahaha. TERJADILAH PERTARUNGAN DEWATA CENGKAR DENGAN AJI SAKA AJI SAKA Bismillahirrahmanirrahim…. TIBA-TIBA SORBAN AJI SAKA MELILIT TUBUH DEWATA CENGKAR DAN AJI SAKA PUN MELEMPAR TUBUHNYA KE LAUT HINGGA LEYAP DAN MATI Alhamdulillahirobil Alamin…. Akhirnya aku berhasil membinasakan Prabu Dewata Cengkar dan membuangnya ke laut selatan. TAK LAMA KEMUDIAN, DATANGLAH DORA MENEMUI AJI SAKA DORA Tuan, bagaimana keadaanmu? Apakah kau sudah berhasil membinasakan Prabu Dewata Cengkar? AJI SAKA Keadaanku baik-baik saja Dora. Aku telah berhasil membinasakan Prabu Dewata Cengkar! DORA Alhamdulillahirobil Alamin…. Baguslah kalau begitu! AJI SAKA Dora, sekarang pergilah kau ke Medang Kawit! Ajaklah masyarakat desa Medang Kamulang yang mengungsi untuk kembali ke sini serta ambillah kerisku! Katakan kepada Sembada bahwa aku yang menyuruhmu. DORA Baik, tuan! PERGI MENUJU MEDANG KAWIT ADEGAN IX AKHIRNYA DORA PUN SAMPAI DI DESA MEDANG KAWIT DAN MENEMUI SAHABATNYA, SEMBADA. MEREKA PUN MELEPASKAN RASA RINDU DENGAN SALING MERANGKUL. DORA Sembada, sahabatku! Bagaimana kabarmu? SEMBADA MEMELUK DORA Dora! Aku baik-baik saja! Bagaimana denganmu? DORA Aku baik-baik saja Sembada. SEMBADA Oh, ya. Lalu bagaimana dengan tuan Aji Saka? Kuharap tuan Aji Saka di sana baik-baik saja. Karena setiap hari aku selalu memikirkan keadaannya di Medang Kamulan. Semenjak kepergiannya aku jadi tak bisa tidur. Ayo Dora ceritakan padaku, bagaimana keadaan tuanku Aji Saka? DORA Tenanglah, tuan Aji Saka pun baik-baik saja. Dia sudah berhasil mengalahkan Prabu Dewata Cengkar dan membinasakannya. SEMBADA Syukurlah. Lalu mengapa tuan Aji Saka tidak ke sini? DORA Tuan Aji Saka saat ini telah menjadi Raja di Medang Kamulan. Jadi, dia sedang sibuk mengatur keadaan di sana. SEMBADA KAGUM DAN BAHAGIA benarkah itu Dora, aku begitu sedang mendengarnya. Biarlah tuan Aji Saka tak berkunjung ke sini, tetapi mendengar keadaannya yang baik-baik saja hatiku sudah lega sekali. DORA Ya, aku bicara benar! Tapi mengapa nada-nadamu bicaramu seperti orang yang jatuh cinta? Apakah kau menyimpan rasa dengan tuan Aji Saka, Sembada? SEMBADA MALU DAN TAK BERANI MENOLEH KE HADAPAN DORA Tidak sahabatku. Ini hanya bentuk kekhawatiran seorang abdi kepada tuannya. MENUTUP-NUTUPI PERASAANNYA DORA TIDAK YAKIN Yang benar? Ya sudahlah kalau memang seperti itu. SEMBADA Mengapa kau seperti tak percaya padaku, aku benar-benar jujur padamu. Percayalah padaku Dora. MENCOBA MEYAKINKAN DORA Aku percaya padamu, kau kan sahabat terbaikku karena aku percaya kau tidak gila kan, Sembada. Tuan Aji Saka itu kan atasan kita, jadi tak mungkin abdi seperti kita ini jatuh cinta dengannya. Jika memang benar kau mencintai tuan Aji Saka, kau tahu resikonya, bahwa kau pasti akan terluka, ingat itu Sembada! SEMBADA Iya, aku mengerti akan hal itu, Dora. Oh ya, lalu mau apa kau kemari Dora, apakah kau tidak membantu tuan Aji Saka di sana? MENGALIHKAN PEMBICARAAN DORA Iya. MENGANGGUK-ANGGUKAN KEPALANYA Aku datang ke sini karena diperintahkan oleh tuan Aji Saka? SEMBADA Oh…. Memangnya apa yang diperintahkan tuan Aji Saka padamu? DORA Aku diperintahkan datang ke sini untuk mengambil keris pusaka milik tuan Aji Saka. SEMBADA Apa? Tidak, sabahatku! Tuan Aji saka berpesan kepadaku bahwa keris ini tidak boleh diberikan kepada siapa pun, kecuali tuan Aji Saka sendiri yang datang mengambilnya. DORA Tapi ini perintah dari tuan Aji Saka sendiri. SEMBADA Tidak, aku tetap tidak akan menyerahkannya padamu. DORA Aku telah mempercayaimu tadi, tetapi mengapa sekarang kau yang tak percaya padaku. Aku datang ke sini memang untuk mengambil keris pusaka milik tuan Aji Saka. Itulah perintah tuan Aji Saka padaku. SEMBADA Sekali aku katakanan tidak’, maka tidak. DORA Kau memang keras kepala Sembada. SEMBADA Maaf sahabatku, aku sudah berjanji akan menjaga keris ini meski nyawa taruhannya. DORA KESAL Jadi kau benar-benar tidak mau menyerahkan keris itu padaku? SEMBADA BERSIKUKUH Tidak! Aku tidak akan menyerahkannya padamu kecuali tuan Aji Saka sendiri yang mengambilnya padaku. DORA Baiklah kalau begitu mau tidak mau kita harus adu kesaktian untuk menentukan siapa yang berhak membawa keris itu! SEMBADA Baiklah kalau begitu. DORA DAN SEMBADA PUN BERTARUNG. KARENA MEMILIKI KESAKTIAN YANG SAMA DAN MEREKA PUN SAMA-SAMA MATI, TETAPI SEBELUM MATI MEREKA SALING BERTATAPAN DAN SALING MEMANGGIL ADEGAN X AJI SAKA PUN DIANGKAT MENJADI RAJA DI MEDANG KAMULANG SETELAH MENGALAHKAN PRABU DEWATA CENGKAR. BEBERAPA HARI AJI SAKA MEMBERIKAN AMANAH KEPADA DORA UNTUK MENGAMBIL KERIS PUSAKA KEPADA SEMBADA, TETAPI DORA BELUM JUGA KEMBALI KE MEDANG KAMULANG. AJI SAKA GELISAH Lama sekali Dora kembali ke sini! Apakah ada sesuatu yang terjadi dengannya. DAYANG ISTANA 1 Apa yang terjadi Prabu Aji Saka! Sepertinya kau begitu gelisah? AJI SAKA Ya, memang aku sedang gelisah karena Dora, abdiku belum juga kembali ke sini untuk membawa keris pusaka yang kutitipkan pada abdiku yang lain, Sembada. DAYANG ISTANA 2 Oh, kalau seperti itu mengapa tidak kau coba ke sana untuk memastikan apa yang terjadi, daripada Prabu selalu gelisah di sini! DAYANG ISTANA 1 Benar Prabu! Ada baiknya jika kau datang ke sana, biarlah kerajaan kami yang akan menjaganya bersama prajurit-prajurit yang ada. Lagi pula masyarakat pun sudah banyak yang kembali ke rumah meraka masing-masing. Jadi, kau tidaklah perlu lagi memikirnya nasib mereka. Mereka telah hidup aman dan sentausa. AJI SAKA Benar juga katamu! Aku akan berangkat menuju Medang Kawit untuk mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi? Tolonglah kalian jaga kerajaan ini, aku tak akanpergi lama. Kalau memang sudah kutemukan Dora dan Sembada serta membawa keris pusaka milikku, aku akan datang lagi ke sini, untuk mengurus kerajaan ini. DAYANG ISTANA 1 Baik Prabu, kami akan menjaga kerajaan ini dengan baik. DAYANG ISTANA 2 Benar, tidak usah khawatir. Berhati-hatilah dalam perjalananmu Prabu Aji Saka. AJI SAKA Ya, aku percaya pada kalian. Aku pamit sekarang. BERGEGAS PERGI MENUJU DESA MEDANG KAWIT SESAMPAINYA AJI SAKA DI DESA MEDANG KAWIT, BETAPA TERKEJUTNYA DIA KETIKA MELIHAT DUA ABDINYA YANG TELAH MATI KARENA TERTUSUK PEDANG. AJI SAKA PUN BERSEDIH ATAS KEMATIAN KEDUA ABDINYA TERSEBUT. AJI SAKA Dora, Sembada! Mengapa kau mati seperti ini? Maafkan aku yang telah lupa memberikan amanah yang bertentangan terhadap kalian. Kalian sungguh abdiku yang setia. Kalian rela mengorbannya nyawa untuk mempertahankan amanah dariku. Baiklah Dora, Sembada aku akan membuat sebuah aksara Jawa untuk mengenang kalian. MENGUKIR SEBUAH BATU BESAR DENGAN HURUF AKSARA JAWA, LALU BERDIRI KEHAPADAN MAYAT DORA DAN SEMBADA ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga ~ SELESAI ~
Dikisahkan, di Dusun Medang Kawit, Desa Majethi, Jawa Tengah, hiduplah seorang pendekar tampan yang sakti mandraguna bernama Aji Saka. Ia mempunyai sebuah keris pusaka dan serban sakti. Selain sakti, ia juga rajin dan baik hati. Ia senantiasa membantu ayahnya bekerja di ladang, dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Ke mana pun pergi, ia selalu ditemani oleh dua orang abdinya yang bernama Dora dan Sembada. Pada suatu hari, Aji Saka meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mengembara bersama Dora. Sementara, Sembada ditugaskan untuk membawa dan menjaga keris pusaka miliknya ke Pegunungan Kendeng. “Sembada! Bawa keris pusaka ini ke Pegunungan Kendeng. Kamu harus menjaganya dengan baik dan jangan berikan kepada siapa pun sampai aku sendiri yang mengambilnya!” pesan Aji Saka kepada Sembada. “Baik, Tuan! Saya berjanji akan menjaga dan merawat keris pusaka Tuan!” jawab Sembada. Setelah itu, berangkatlah Sembada ke arah utara menuju Gunung Kendeng, sedangkan Aji Saka dan Dora berangkat mengembara menuju ke arah selatan. Mereka tidak membawa bekal pakaian kecuali yang melekat pada tubuh mereka. Setelah setengah hari berjalan, sampailah mereka di sebuah hutan yang sangat lebat. Ketika akan melintasi hutan tersebut, tiba-tiba Aji Saka mendengar teriakan seorang laki-laki meminta tolong. “Tolong...!!! Tolong...!!! Tolong...!!!” demikian suara itu terdengar. Mendengar teriakan itu, Aji Saka dan Dora segera menuju ke sumber suara tersebut. Tak lama kemudian, mereka mendapati seorang laki-laki paruh baya sedang dipukuli oleh dua orang perampok. “Hei, hentikan perbuatan kalian!” seru Aji Saka. Kedua perampok itu tidak menghiraukan teriakan Aji Saka. Mereka tetap memukuli laki-laki itu. Melihat tindakan kedua perampok tersebut, Aji Saka pun naik pitam. Dengan secepat kilat, ia melayangkan sebuah tendangan keras ke kepala kedua perampok tersebut hingga tersungkur ke tanah dan tidak sadarkan diri. Setelah itu, ia dan abdinya segera menghampiri laki-laki itu. “Maaf, Pak! Kalau boleh kami tahu, Bapak dari mana dan kenapa berada di tengah hutan ini?” tanya Aji Saka. Lelaki paruh baya itu pun bercerita bahwa dia seorang pengungsi dari Negeri Medang Kamukan. Ia mengungsi karena raja di negerinya yang bernama Prabu Dewata Cengkar suka memakan daging manusia. Setiap hari ia memakan daging seorang manusia yang dipersembahkan oleh Patihnya yang bernama Jugul Muda. Karena takut menjadi mangsa sang Raja, sebagian rakyat mengungsi secara diam-diam ke daerah lain. Aji Saka dan abdinya tersentak kaget mendengar cerita laki-laki tua yang baru saja ditolongnya itu. “Bagaimana itu bisa terjadi, Pak?” tanya Aji Saka dengan heran. “Begini, Tuan! Kegemaran Prabu Dewata Cengkar memakan daging manusia bermula ketika seorang juru masak istana teriris jarinya, lalu potongan jari itu masuk ke dalam sup yang disajikan untuk sang Prabu. Rupanya, beliau sangat menyukainya. Sejak itulah sang Prabu menjadi senang makan daging manusia dan sifatnya pun berubah menjadi bengis,” jelas lelaki itu. Mendengar pejelasan itu, Aji Saka dan abdinya memutuskan untuk pergi ke Negeri Medang Kamukan. Ia ingin menolong rakyat Medang Kamukan dari kebengisan Prabu Dewata Cengkar. Setelah sehari semalam berjalan keluar masuk hutan, menyebarangi sungai, serta menaiki dan menuruni bukit, akhirnya mereka sampai di kota Kerajaan Medang Kamukan. Suasana kota itu tampak sepi. Kota itu bagaikan kota mati. Tak seorang pun yang terlihat lalu lalang di jalan. Semua pintu rumah tertutup rapat. Para penduduk tidak mau keluar rumah, karena takut dimangsa oleh sang Prabu. “Apa yang harus kita lakukan, Tuan?” tanya Dora. “Kamu tunggu di luar saja! Biarlah aku sendiri yang masuk ke istana menemui Raja bengis itu,” jawab Aji Saka dengan tegas. Dengan gagahnya, Aji Saka berjalan menuju ke istana. Suasana di sekitar istana tampak sepi. Hanya ada beberapa orang pengawal yang sedang mondar-mandir di depan pintu gerbang istana. “Berhenti, Anak Muda!” cegat seorang pengawal ketika Aji Saka berada di depan pintu gerbang istana. “Kamu siap dan apa tujuanmu kemari?” tanya pengawal itu. “Saya Aji Saka dari Medang Kawit ingin bertemu dengan sang Prabu,” jawab Aji Saka. “Hai, Anak Muda! Apakah kamu tidak takut dimangsa sang Prabu?” sahut seorang pengawal yang lain. “Ketahuilah, Tuan-Tuan! Tujuan saya kemari memang untuk menyerahkan diri saya kepada sang Prabu untuk dimangsa,” jawab Aji Saka. Para pengawal istana terkejut mendengar jawaban Aji Saka. Tanpa banyak tanya, mereka pun mengizinkan Aji Saka masuk ke dalam istana. Saat berada di dalam istana, ia mendapati Prabu Dewata Cengkar sedang murka, karena Patih Jugul tidak membawa mangsa untuknya. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia langsung menghadap kepada sang Prabu dan menyerahkan diri untuk dimangsa. “Ampun, Gusti Prabu! Hamba Aji Saka. Jika Baginda berkenan, hamba siap menjadi santapan Baginda hari ini,” kata Aji Saka. Betapa senangnya hati sang Prabu mendapat tawaran makanan. Dengan tidak sabar, ia segera memerintahkan Patih Jugul untuk menangkap dan memotong-motong tubuh Aji Saka untuk dimasak. Ketika Patih Jugul akan menangkapnya, Aji Saka mundur selangkah, lalu berkata “Ampun, Gusti! Sebelum ditangkap, Hamba ada satu permintaan. Hamba mohon imbalan sebidang tanah seluas serban hamba ini,” pinta Aji Saka sambil menunjukkan serban yang dikenakannya. “Hanya itu permintaanmu, hai Anak Muda! Apakah kamu tidak ingin meminta yang lebih luas lagi?” sang Prabu menawarkan. “Sudah cukup Gusti. Hamba hanya menginginkan seluas serban ini,” jawab Aji Saka dengan tegas. “Baiklah kalau begitu, Anak Muda! Sebelum memakanmu, akan kupenuhi permintaanmu terlebih dahulu,” kata sang Prabu. Aji Saka pun melepas serban yang melilit di kepalanya dan menyerahkannya kepada sang Prabu. “Ampun, Gusti! Untuk menghindari kecurangan, alangkah baiknya jika Gusti sendiri yang mengukurnya,” ujar Aji Saka. Prabu Dewata Cengkar pun setuju. Perlahan-lahan, ia melangkah mundur sambil mengulur serban itu. Anehnya, setiap diulur, serban itu terus memanjang dan meluas hingga meliputi seluruh wilayah Kerajaan Medang Kamulan. Karena saking senangnya mendapat mangsa yang masih muda dan segar, sang Prabu terus mengulur serban itu sampai di pantai Laut Selatan tanpa disadarinya,. Ketika ia masuk ke tengah laut, Aji Saka segera menyentakkan serbannya, sehingga sang Prabu terjungkal dan seketika itu pula berubah menjadi seekor buaya putih. Mengetahui kabar tersebut, seluruh rakyat Medang Kamulan kembali dari tempat pengungsian mereka. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi Raja Medang Kamulan menggantikan Prabu Dewata Cengkar dengan gelar Prabu Anom Aji Saka. Ia memimpin Kerajaan Medang Kamulan dengan arif dan bijaksana, sehingga seluruh rakyatnya hidup tenang, aman, makmur, dan sentosa. Pada suatu hari, Aji Saka memanggil Dora untuk menghadap kepadanya. “Dora! Pergilah ke Pegunungan Kendeng untuk mengambil kerisku. Katakan kepada Sembada bahwa aku yang menyuruhmu,” titah Raja yang baru itu. “Daulah, Gusti!” jawab Dora seraya memohon diri. Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Dora di Pegunungan Gendeng. Ketika kedua sahabat tersebut bertemu, mereka saling rangkul untuk melepas rasa rindu. Setelah itu, Dora pun menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sembada. “Sembada, sahabatku! Kini Tuan Aji Saka telah menjadi raja Negeri Medang Kamulan. Beliau mengutusku kemari untuk mengambil keris pusakanya untuk dibawa ke istana,” ungkap Dora. “Tidak, sabahatku! Tuan Aji berpesan kepadaku bahwa keris ini tidak boleh diberikan kepada siapa pun, kecuali beliau sendiri yang datang mengambilnya,” kata Sembada dengan tegas. Karena merasa mendapat tanggungjawab dari Aji Saka, Dora pun harus mengambil keris itu dari tangan Sembada untuk dibawa ke istana. Kedua dua orang abdi bersahabat tersebut tidak ada yang mau mengalah. Mereka bersikeras mempertahankan tanggungjawab masing-masing dari Aji Saka. Mereka bertekad lebih baik mati daripada menghianati perintah tuannya. Akhirnya, terjadilah pertarungan sengit antara kedua orang bersahabat tersebut. Mereka sama kuat dan tangguhnya, sehingga mereka pun mati bersama. Sementara itu, Aji Saka sudah mulai gelisah menunggu kedatangan Dora dari Pegunung Gendeng membawa kerisnya. “Apa yang terjadi dengan Dora? Kenapa sampai saat ini dia belum juga kembali?” gumam Aji Saka. Sudah dua hari Aji Saka menunggu, namun Dora tak kunjung tiba. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyusul abdinya itu ke Pegunungan Gendeng seorang diri. Betapa terkejutnya ia saat tiba di sana. Ia mendapati kedua abdi setianya telah tewas. Mereka tewas karena ingin membuktikan kesetiaannya kepada tuan mereka. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya tersebut, Aji Saka menciptakan aksara Jawa atau dikenal dengan istilah dhentawyanjana, yang mengisahkan pertarungan antara dua abdinya yang memiliki kesaktiaan yang sama dan tewas bersama. Huruf-huruf tersebut juga dikenal dengan istilah carakan. Adapun susunan hurufnya sebagai berikut Ha na ca ra ka Ada utusan Da ta sa wa la Saling bertengkar Pa dha ja ya nya Sama saktinya Ma ga ba tha nga Mati bersama Sekelumit tentang Aji Saka Aji Saka adalah seorang kesatria yang sakti mandraguna dari daerah Jawa Tengah, Indonesia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Aji Saka merupakan orang yang kali pertama menciptakan aksara Jawa yang dikenal dengan istilah dhentawyanjana atau carakan. Aji saka menciptakan aksara Jawa tersebut ketika ia sedang mengembara bersama seorang abdinya yang bernama Dora. Cerita Dongeng Indonesia memuat dengan lengkap unsur-unsur dan kaidah baku dalam menyajikan cerita dan dongeng, meliputi unsur Intrinsik yaitu meliputi Tema, Amanat/Pesan Moral, Alur Cerita/Plot, Perwatakan/Penokohan, Latar/Setting, dan Sudut pandang. dan kadang disertai unsur Ekstrinsik Cerita.
Inilah apakah aji saka pernah bertemu nabi muhammad saw dan ulasan lainnya yang berkaitan erat dengan topik apakah aji saka pernah bertemu nabi muhammad saw serta aneka informasi dunia misteri yang Anda butuhkan. Silhkan klik pada judul artikel-artikel berikut ini untuk membaca penjelasan lengkap tentang apakah aji saka pernah bertemu nabi muhammad saw. Semoga bermanfaat! …bawah ini. Mereka itu adalah Nabi Khidir Alaihissalam, Nabi Idris Alaihissalam, Nabi Ilyas Alaihissalam dan Nabi Isa Alaihissalam. Inilah kekuasaan ALLAH SWT terhadap Nabi yang di percayakan pada-NYA. Kisah Nabi……masih dapat ditemukan nubuat-nubuat para nabi yang memberikan sinyalemen akan datangnya seorang nabi terakhir yang menutup keberadaan para nabi sebelumnya. Keberadaan nabi terakhir yang pamungkas ini sangat penting artinya untuk……para Nabi sebelum Nabi Muhammad, dakwahnya hanya terbatas pada kaumnya saja. Misal, Nabi Isa AS, beliau bertugas hanya sebagai utusan Tuhan bagi Bani Israil saja.. QS 4359. Isa tidak lain……cahaya apakah ini?” Allah menjawab, “Ini adalah cahaya dari seorang Nabi keturunanmu. Namanya di Syurga adalah Ahmad, dan di Bumi namanya Muhammad sall-Allahu alaihi wasallam. Jika bukan demi dirinya, tentu……sejak lama ada, disebarkan melalui fitnah yang terjadi di antara manusia yang telah diperdaya oleh hawa nafsunya sendiri. Bahkan Nabi saw memperingatkan bahwa kelompok umat Nabi Muhammad yang tidak hanyut…Suatu ketika Nabi Muhammad sedang makan-makan bersama-sama para sahabatnya seperti biasanya. Nabi Muhammad melihat kenyataan bahwa salah satu sahabatnya ketika mulai makan tidak membaca “bismillah…”, Rasul mendiamkan saja situasi tersebut……Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang……Enos bin Nabi Syits Seth bin Nabi Adam, hal ini bermakna jarak antara Nabi Nuh dengan leluhur umat manusia Nabi Adam, tidaklah begitu jauh hanya berjarak sekitar 9 generasi, benarkah……dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” Al-Quran dalam ayat lainnya menyinggung shalat yang dilakukan Nabi Zakaria as dan wasiat Luqman Hakim kepada anaknya mengenai shalat. Sebelum Rasulullah Muhammad Saw diutus,… Demikianlah beberapa uraian kami tentang apakah aji saka pernah bertemu nabi muhammad saw. Jika Anda merasa belum jelas, bisa juga langsung mengajukan pertanyaan kepada MENARIK LAINNYAciri ciri keturunan brawijaya v, jodoh satrio piningit, Ciri keturunan Aji Saka, Pangeran sangga buana, asal usul mahesa suro, Ciri-ciri fisik keturunan Banten, ciri-ciri keturunan jaka tingkir, Ciri-ciri KETURUNAN Tubagus, ciri keturunan batoro katong, silsilah keturunan dewi lanjar
- Bangkitnya peradaban di Pulau Jawa kerap dikaitkan dengan kisah legenda Aji Saka. Konon, legenda tersebut menceritakan tentang kisah Aji Saka, sosok yang membuat aksara Jawa dan pencipta tarikh Tahun Saka. Lantas, dari mana asal Aji Saka dan bagaimana kisahnya hingga disebut sebagai tokoh yang membangkitkan peradaban di Jawa?Asal-usul Aji Saka Legenda menyebut bahwa Aji Saka berasal dari negeri antah-berantah bernama Bumi Majeti. Akan tetapi, ada pula yang menafsirkan bahwa Aji Saka adalah keturunan suku Shaka dari India. Hal ini dapat dimengerti karena memang terdapat beberapa versi terkait asal-usul ataupun kisah Aji Saka. Aji Saka digambarkan sebagai pemuda sakti yang mempunyai keris pusaka, sebuah sorban sakti, dan dua orang abdi setia bernama Dora dan Sembada. Selain itu, ia adalah pribadi yang suka menolong, termasuk menolong rakyat Jawa dari kekejaman penguasanya. Legenda Aji Saka mengisahkan tentang kedatangan seorang pahlawan yang membawa peradaban dan keteraturan di Tanah Jawa dengan mengalahkan raksasa jahat yang sebelumnya berkuasa di pulau ini. Selain itu, Aji Saka diceritakan kehilangan abdi setianya akibat sebuah kesalahpahaman, dan dari kisah tragis inilah lahir Hanacaraka. Baca juga Ki Ageng Selo, Legenda Penangkap Petir Aji Saka melawan Dewata Cengkar Dikisahkan Aji Saka melakukan pengembaraan ke Jawa untuk menyelamatkan rakyat Kerajaan Medang Kamulan dari kekejaman rajanya, Dewata Cengkar, yang gemar memakan daging manusia. Sebelum pergi ke Medang Kamulan, Aji Saka meninggalkan keris pusakanya di Gunung Kendeng dan meminta Sembada untuk menjaganya. Ia juga berpesan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh mengambil pusaka itu kecuali dirinya sendiri. Setelah itu, Aji Saka membawa Dora untuk menemui Dewata Cengkar dan mengaku bahwa dirinya mau dijadikan santapan. Akan tetapi, Aji Saka mengajukan satu syarat, yakni meminta sebidang tanah yang sepanjang sorbannya. Namun, ketika Dewata Cengkar mulai mengukur tanah, sorban itu memanjang terus menerus hingga mencapai pinggir Laut Selatan. Dengan kecerdasannya, Aji Saka pun mampu menenggelamkan Dewata Cengkar ke Laut itu, ia dinobatkan sebagai raja Medang Kamulan, sedangkan Dewata Cengkar berubah menjadi buaya putih. Asal-usul aksara Jawa Suatu hari, Aji Saka memerintahkan Dora untuk mengambil keris pusaka yang dititipkan kepada Sembada. Namun, Sembada menolak karena sesuai perintah Aji Saka sebelumnya, tidak ada yang diperbolehkan untuk membawa pusaka itu selain Aji Saka sendiri. Alhasil, dua abdi Aji Saka saling mencurigai bahwa masing-masing bermaksud untuk mencuri pusaka itu. Akhirnya, Sembada dan Dora pun bertarung untuk memertahankan tanggung jawabnya hingga tewas. Baca juga Asal-usul Nama Kota Dumai dan Legenda Putri Tujuh Ketika Aji Saka menyusul ke Gunung Kendeng, ia menemukan dua abdinya telah meninggal akibat kesalahpahaman. Di depan jasad dua abdinya itu, Aji Saka menciptakan puisi yang isinya sebagai berikut. Hanacaraka, artinya terdapat dua utusanDatasawala, artinya mereka berbeda pendapatPadhajayanya, artinya mereka berdua sama kuatnyaMagabathanga, artinya inilah mayat mereka Puisi yang diciptakan untuk mengenang dua abdi Aji Saka ini kemudian dikenal sebagai Hanacaraka atau aksara Jawa. Membawa peradaban ke Jawa Beberapa ahli sepakat bahwa legenda Aji Saka memiliki hubungan dengan penggunaan Kalender Saka. Di Jawa, Aji Saka menyebarkan perhitungan tarikh yang dinamakan tahun Saka, dimulai sejak kedatangannya, yaitu tahun 1 Saka 78 Masehi. Selain memperkenalkan tahun Saka, Aji Saka juga menyebarkan pengetahuan membaca dan menulis sebagai dasar pengembangan kebudayaan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa penggunaan abjad di Jawa sudah dimulai sejak 78 Masehi, meskipun belum ditemukan bukti tertulis yang mendukungnya. Baca juga Hanacaraka Asal-usul, Makna, dan Jenisnya Referensi Reza, Marina Asril. 2010. 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara. Jakarta Visi Media. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Buku ini membahas naskah zaman kasultanan Pajang yang berjudul Serat Niti Sruti, ditulis oleh pujangga Pajang yang bernama Ki Ageng Karanggayam. Serat ini tergolong serat niti yang merupakan ajaran pembentukan karakter dan kepribadian. Dalam kajian sastra telaah terhadap naskah tidak bisa dilepaskan dari konteks sosio-kultural dan sosio-historis yang menjadi background dimana sebuah karya tulis diciptakan sehingga kajian terhadap naskah Niti Sruti ini juga tidak bisa dilepaskan dari kajian sejarah Pajang dan kebudayaan yang berkembang pada zaman itu. Kajian terhadap sejarah dan kebudayaan Pajang acap kali menjadi persoalan yang rumit bagi para sejarawan Jawa, sebab tidak ada data tertulis yang secara definitif ditemukan terkait dengan informasi kerajaan Pajang. Peninggalan zaman Majapahit jauh lebih mudah ditemukan daripada zaman kerajaan Pajang. Beberapa informasi tentang zaman Pajang secara parsial dapat ditemukan dari R. Tanoyo ed 1983 “Babad Pajang”, Nancy Florida 2003 “Menyurat Yang Silam Menggurat Yang Menjelang analisis Serat Jaka Tingkir”, de Graaf 1985 “Kerajaan-Kerajaan Islam Di Jawa Peralihan Dari Majapahit ke Mataram”, dan Olthof 2011 “Babad Tanah Jawi Mulai Nabi Adam Sampai Tahun 1647”. Beberapa statement sejarah terdapat dalam beberapa buku tersebut, hanya saja sulit untuk membuat konstruksi sejarah Pajang secara memadai. Sejarah Pajang penting untuk dikaji, karena era ini merupakan era transisi dari zaman Demak yang notabene ajaran Islam masih berhadapan vis a vis dengan budaya Jawa, menuju zaman Mataram yang dianggap secara definitif bahwa Islam dengan Jawa telah mengalami akulturasi secara sempurna. Maka sesungguhnya zaman Pajanglah yang menstimulasi Islam bertemu dengan budaya Jawa secara damai penetration pacifique dan menciptakan generasi baru, yaitu Islam Jawa atau Islam Nusantara. Pujangga Pajang, Karanggayam merupakan seorang stimulator akulturasi Jawa-Islam yang termanifestasi dalam karyanya serat Niti Sruti. Dia mengedepankan pola hidup yang inklusif, pluralis, saling menghargai dan kesamaan derajat antar manusia, yang dikemas dalam beberapa tema ajaran spiritual, sosial politik, pendidikan, dan kesejahteraan hidup masyarakat Jawa dan sebagainya. Hal itu disampaikan secara lengkap dalam serat Niti Sruti. Buku ini bukan yang pertama membahas Niti Sruti karena sudah ada penulis sebelumnya yang membahas naskah ini; di antaranya Jayanti Adji Utami dan Suwarni pernah menulisnya dengan judul “Piwulang Sajrone Serat Niti Sruti Tintingan Sosiologi Sastra” dimuat di dalam e jurnal UNESA Surabaya, tulisan ini mengkaji nilai-nilai moralitas dengan pendekatan sastra di dalam naskah tersebut. Penulis lepas yang lain beranama A Karasa mencoba membuat tafsiran lepas terhadap Astabrata yang membahas tema politik, salah satu tema dalam Niti Sruti. Kedua tema itu penting untuk dibaca, namun belum layak disebut kajian yang komprehensif. Buku yang ada di tangan pembaca ini, memuat lengkap seluruh ajaran Niti Sruti, baik naskah aslinya, ringkasan isinya, dan kajian terhadap background sejarah dan kebudayaan yang melatar belakangi naskah itu ditulis. Kandungan naskah Niti Sruti dapat diringkas dalam 5 tema penting, ajaran moralitas 1 Tema spiritual, yang membahas tentang kecintaan terhadap Nabi Muhammad dan upaya mencapai tingkat menyatu antara hamba dengan tuhan; 2 Tema pendidikan, yang mencakup sikap dan perilaku orang mencari ilmu dan juga tata cara mencari ilmu yang baik dan benar; 3 Tema politik dan kekuasaan yang membahas tentang sikap seorang raja yang baik dan sikap menjadi warga masyarakat yang benar sehingga terwujud Negara yang sejahtera, aman, dan jauh dari marabahaya; 4 Tema budaya yang mendorong masyarakat untuk menjunjung tinggi budaya Jawa dan menyelaraskan antara rasa dan sastra, kata dan perilaku; 5 Hubungan antar manusia yaitu mendorong terwujudnya masyarakat yang belas kasih antar sesama, dermawan terhadap orang miskin, anak yatim, dan juga orang tua jompo. Ajaran naskah tersebut terbukti bernilai inklusif dan multikultural, sebab terbukti selain bersumber dari ajaran Islam juga ada nukilan dari ajaran Hindu dalam serat Ramayana, juga ajaran keluhuran budi di dalam konsep filsafat hidup masyarakat Jawa. Ajaran Serat Niti Sruti lahir dalam rangka menyikapi kondisi Pajang pasca wafatnya Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Secara spiritual, Joko Tingkir adalah putra sekaligus penerus ajaran manunggaling Kawula Gusti Ki Ageng Pengging, murid dari Syeh Siti Jenar, tetapi di sisi lain Sultan Hadiwijaya juga penerus kerajaan Demak dan murid dari Sunan Kalijaga, maka dari itu Karanggayam membuat rumusan ajaran spiritual yang bersumber dari Islam dan sekaligus bersumber dari warisan Manunggaling Kawulo Gusti dari trah Pengging Pajang; ajaran politik, dikemukakan menyikapi kisruh tarik ulur pengganti pasca wafatnya Sultan Hadiwijaya antara Pangeran Benawa putra Sultan Hadiwijaya didukung oleh Sutowijaya dari Mataram, melawan Arya Pangiri dari Demak menantu Sultan yang di dukung oleh Sunan Kudus. Konflik tersebut diselesaikan sepihak oleh Sunan Kudus dengan mengangkat Arya Pangiri sebagai Sultan Pajang. Kisruh politik itu berlanjut sehingga menjadi problem sosial, dari kasus pembagian jabatan, hak atas tanah, dan juga perumahan warga. Karena Arya Pangiri dalam memerintah Pajang membawa tentara bayaran dari orang asing, yang terdiri dari Makassar, Bugis dan peranakan Cina yang membutuhkan beberapa fasilitas, termasuk orang Demak sendiri juga memang asing bagi warga Pajang. Konflik ini berakhir setelah Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya dari Mataram mengusir Arya Pangiri beserta tentaranya kembali ke Demak, hanya disayangkan setelah menang dari peperangan itu pangeran Benawa enggan duduk duduk di Singgasana kasultanan, dan memilih mengasingkan diri menekuni dunia spiritual. Pujangga Karanggayam berusaha menetralisir aneka kisruh politik itu dengan ajaran damai yang diambil dari naskah Ramayana dengan konsep “Astabrata”. Beberapa ajaran lain tentang pendidikan dan sosial budaya, dibangun untuk memberi bekal masyarakat agar terdidik serta hidup dalam pola budaya masyarakat yang luhur, serta tidak bingung menghadapi mulai masuknya budaya asing khususnya dari Portugis yang kala itu sudah mulai mendekat di pulau Jawa.
- Raudhah adalah tempat mulia dan istimewa di Masjid Nabawi yang selalu didatangi umat Islam dari seluruh dunia. Disebut sebagai salah satu tempat yang baik dalam memanjatkan doa, pengunjung biasanya datang untuk berdoa sekaligus berziarah ke makam Rasulullah dan para tersebut juga tidak disiakan-siakan oleh jamaah haji Indonesia untuk mengunjungi tempat yang berada di dalam Masjid Nabawi tersebut. Baca juga 6 Tips Menghadapi Cuaca Panas bagi Jemaah Haji Apa itu Raudhah? Dilansir laman Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, sekitar 1400 tahun lalu, di tempat ini Rasulullah SAW beribadah, sholat, menerima wahyu, berdakwah dan juga tempat sholat para sahabat. Raudhah adalah sebuah tempat di Masjid Nabawi yang letaknya berada di antara rumah dan mimbar Rasulullah SAW. Sehingga termasuk lokasi paling mulia di Masjid masuk area Raudhah pemerintah Arab Saudi melakukan penetapan jadwal masuk melalui aplikasi e-hajj. Baca juga Tarif Sewa Skuter dan Kursi Roda bagi Jemaah Haji Lansia di Masjidil Haram Jadwal atau izin masuk Raudhah Nabawi yang ada di aplikasi disebut tasreh. Di dalamnya sudah diatur jadwal masuk antara jamaah haji laki-laki dan perempuan. Meskipun ada waktu di mana para jamaah bisa juga masuk Raudhah tanpa menggunakan tasrih, yakni mengantri usai shalat subuh. Cara ini banyak dilakukan jamaah, tidak hanya dari Indonesia tapi juga umat Islam dari berbagai negara. Usai shalat subuh, jamaah akan mengantri menunggu area Raudhah dibuka. Baca juga Jemaah Haji Indonesia Meninggal Capai 21 Orang, Tertinggi dalam 4 Tahun Terakhir, Apa Penyebabnya? Penggunaan surat tasreh SUSANTI Suasana Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi
- Peringatan Isra Miraj 2022 bertepatan pada hari Senin, 28 Februari 2022 atau 27 Rajab 1443 Hijriah mendatang. Peristiwa Isra Miraj menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Isra Miraj merupakan kisah perjalanan satu malam Nabi Muhammad SAW yang ditemani oleh Malaikat Jibril. Nabi MUhammad SAW bertemu siapa saja saat Isra Miraj? Peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW tersebut dimulai dari Masjidil Haram di kota Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem atau yang disebut sebagai “Isra”, lalu perjalanan Nabi Muhammad SAW dilanjutkan menuju Sidratul Muntaha atau langit ketujuh atau yang disebut sebagai “Miraj”. Pada peristiwa “Miraj”, Nabi Muhammad SAW mendapat perintah sholat 5 waktu secara langsung dari Allah SWT. Dalam perjalanan “Miraj” ke Sidratul Muntaha atau langit ketujuh untuk bertemu dengan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan nabi-nabi terdahulu di setiap tingkatan langit. Lantas, Nabi Muhammad SAW bertemu siapa saja saat Isra Miraj? Nabi yang Ditemui Rasulullah saat Isra Miraj Baca Juga Jokowi Diisukan Ketemu SBY di GBK, Paspampres Sudah Siap, Ternyata Berakhir Begini Pada langit pertama, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Adam AS. Pada tingkatan langit kedua bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Isa As. Sementara itu, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Yusuf AS pada langit ketiga. Pada langit keempat, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Idris AS, dan langit kelima ia bertemu dengan Nabi Harun AS. Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Musa AS dan di langit ketujuh ia bertemu dengan Nabi Ibrahim AS. Pada setiap tingkatan langit, Nabi Muhammad SAW bertegur sapa dengan para nabi terdahulu. Dikisahkan di langit keenam, Nabi Musa AS dalam keadaan menangis. Lantas Nabi Muhammad SAW menanyakan alasan Nabi Musa AS menangis. "Aku menangis, karena ada orang yang lebih muda diutus setelahku, tapi umatnya lebih banyak yang masuk surga daripada umatku," jawab Nabi Musa AS. Nabi Musa AS bersedih karena jumlah umatnya lebih sedikit daripada umat Nabi Muhammad SAW. Selain itu Nabi Musa AS menyesal setelah mengetahui bahwa umatnya banyak melanggar perintah Allah SWT. Baca Juga Cek Fakta Presiden Jokowi Bertemu SBY di Stadion Gelora Bung Karno "Dikatakan bahwa, Musa menangis bukan karena hasud iri. Naudzubillah! Di alam itu tidak ada lagi sifat hasud bagi tiap-tiap orang Mukmin, terlebih hamba pilihan Allah. Musa hanya merasa menyesal karena tidak bisa meraih pahala yang seharusnya bisa mengangkat derajatnya di sisi Allah SWT," Syekh Badruddin Ahmad al-Aini, dalam kitab Umdatul Qari.